suplemenGKI.com

KAMIS, 26 JUNI 2014

25/06/2014

Mazmur 13:1-6

PERCAYA BAHWA DIA TIDAK MELUPAKAN

 

Pengantar
Ketika bertemu dengan seseorang, entah dengan teman lama atau teman yang masih sering kita jumpai, apakah anda pernah punya pengalaman ‘lupa’ kepada nama seseorang?  Tentu ada perasaan tidak enak, baik yang melupakan maupun yang dilupakan.  Bagi yang melupakan, pasti akan berusaha dengan cepat untuk mengingat kembali.  Bagi yang dilupakan, barangkali ada perasaan tidak berharga, tidak berarti bagi teman yang melupakan dirinya itu.  Masalahnya adalah ‘melupakan’ dan ‘dilupakan’ itu bisa saja terjadi  dalam hidup sehari-hari.  Lalu, bagaimana dengan pengalaman hidup kita sebagai orang percaya?  Apakah kita pernah melupakan Tuhan?  Apakah kita pernah merasa dilupakan Tuhan?

Pemahaman
Ayat 2: Bagaimana pengalaman pemazmur dengan Tuhan?  Apakah dia merasa dilupakan Tuhan?

Ayat 6: Bagi pemazmur, Allah itu seperti apa sebagai bukti bahwa Dia tidak pernah ‘lupa’ kepada anak-anak-Nya?

Apakah Anda pernah memiliki pengalaman merasa dilupakan Tuhan?

Pemazmur mengungkapkan isi hatinya yang merasa ‘dilupakan’ Tuhan.  Ayat 2 mengatakan “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?  Berapa lama lagi Kausembunyikan wajahMu terhadap aku?”   Perasaan dilupakan itu bukan dalam kurun waktu satu hari dua hari tetapi ‘terus menerus’.  Apa yang menyebabkan pemazmur mengalami perasaan seperti itu?  Karena pemazmur mengalami tekanan penderitaan begitu hebat, bagaikan seorang yang sedang sakit keras, hampir mati (ay.4b) sehingga seakan-akan Tuhan melupakan dia (ay.2).   Namun pada akhirnya pemazmur punya keyakinan yang teguh bahwa Dia tidak pernah ‘lupa’ kepada anak-anak-Nya.  Ayat 6 mengatakan “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya”.  Pemazmur percaya kepada kasih setia Tuhan, bahwa Tuhan menyelamatkan dan baik kepadanya.

Itulah yang kemudian menjadi pengalaman pemazmur.  Di akhir mazmurnya, Pemazmur menemukan bahwa Tuhan tidak pernah ‘lupa’ kepadanya.  Mengapa demikian?  Pengalaman bahwa Tuhan tidak pernah ‘lupa’ itu sebagai dampak dari sikap pemazmur yang tidak ‘melupakan’ Tuhan dalam pergumulannya.  Di dalam penderitaan berkepanjangan itu, pemazmur belajar berseru kepada Allah.  Imannya dilatih untuk percaya teguh meski belum melihat.  Pengharapannya kepada Allah dilatih sehingga dia yakin bahwa Tuhan tidak melupakan dirinya.  Dia percaya kasih setia-Nya kekal.  Oleh sebab itu pemazmur juga belajar untuk tidak melupakan Tuhan, Dia bersorak-sorai dan menyanyi untuk TUHAN.

Refleksi
Terkadang persoalan hidup bisa membuat kita seolah ada dalam kesenjangan dari kehadiran Allah.  Kita merasa ‘dilupakan’ Tuhan, walaupun hal itu tidak mungkin Allah lakukan.  Sikap ‘tidak melupakan’ Tuhan itu harus selalu ada dalam hidup kita, sehingga dalam perjumpaan dengan-Nya kita menemukan dan yakin bahwa Dia tidak pernah ‘lupa’ dengan anak-anak-Nya.

Tekadku
Tuhan tolonglah aku agar aku tidak melupakan Engkau dalam keadaan apapun.  Dan berilah hikmat sehingga dalam perjumpaanku dengan-Mu aku yakin bahwa Engkau tidak pernah ‘lupa’ dengan anak-anak-Mu.

Tindakanku
Tidak melupakan Tuhan, berseru dan memandang hanya kepada-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«