suplemenGKI.com

Mazmur 111:1-10

Wujud Pengenalan Kepada Allah 

Mazmur ini berasal dari masa setelah Israel mengalami pembuangan (ayat 9).  Wajar bila litani ayatnya sarat dengan kegembiraan yang diungkapkan melalui pujian.

  1. Apa yang menjadi keinginan pemazmur ketika mengingat kebesaran Tuhan?  (ayat 1a)
  2. Bagaimana seharusnya mengungkapkan pujian syukur menurut pemazmur?  (ayat 1b)
  3. Untuk hal-hal apa saja yang atasnya pemazmur menaikkan pujian?  (ayat 2, 3, 5)
  4. Apakah pujian kepada Allah berhubungan dengan pengenalan akan Dia?  (ayat 10) 

PENDAHULUAN

Perbuatan Allah yang penuh kuasa dan yang bersumber dari kasih setia-Nya yang kekal, membangkitkan pujian dalam diri pemazmur. Awal dan akhir Mazmur ini adalah pujian, seluruhnya berawal dari karya-karya dan sikap kasih setia kekal Allah (ayat 2-9). Tidak begitu jelas perbuatan Allah yang mana yang dimaksud oleh pemazmur. Tetapi, petunjuk di ayat 5 dan 9, mungkin sekali mengacu pada kisah pemeliharaan Allah selama Israel mengembara menuju tanah perjanjian sampai kemudian menjadi tawanan dan dibebaskan dari pembuangan. Dari perenungan akan perbuatan-perbuatan Allah itu (ayat 2b), pemazmur beroleh pengenalan lebih dalam tentang siapa Allah sesungguhnya. Karya-karya Allah tidak saja menunjukkan kemahakuasaan Allah (ayat 3a), tetapi juga menampakkan kebenaran dan kemurahan Allah (ayat 3b, 4). Perbuatan Allah di masa lalu membuat pemazmur teguh beriman bahwa karena Allah setia adanya (ayat 7), seluruh rencana dan semua pekerjaan Allah akan berlangsung terus selamanya (ayat 8a). 

Pujian memang adalah perbuatan manusia beriman terhadap Allahnya. Namun demikian, perbuatan itu adalah respons atas perbuatan-perbuatan Allah yang sangat besar, baik, ajaib dan penuh kasih. Karena itu, meskipun pujian memang memperkenan hati Allah, namun demikian tidak pernah Alkitab memandang pujian sebagai hal yang mengandung nilai menghasilkan pahala dari Tuhan. Puji-pujian kita kepada Tuhan semata-mata dilandaskan atas karya dan sifat Allah yang setia dan penuh kasih kepada kita dan bukan karena mengharapkan semacam balas jasa baik berbentuk keselamatan atau berkat-berkat lain. Pujian yang benar harus dilakukan dengan segenap hati tanpa pamrih apa pun (ayat 1).  Pujian yang benar juga tidak berhenti hanya pada kegiatan pribadi, tetapi mendorong orang beriman untuk memuji Allah bersama umat-Nya (ayat 1b). 

Di bagian akhir mazmur ini, pujian dihubungkan dengan hikmat. Pujian adalah ungkapan dari sikap meninggikan Allah, dan karena itu berhubungan sangat erat dengan takut dan taat kepada Allah. Dalam penilaian Allah, orang yang sungguh paham kebenaran dan memiliki pengertian untuk menilai dan bertindak benar adalah orang yang takut akan Allah.  Salah satu ekspresi yang kemudian muncul dalam diri orang tersebut adalah sikap yang tidak pernah berhenti mengakui kebesaran Allah.  Memuji tidak selalu diartikan menyanyi tetapi lebih kepada sikap yang berani mengakui segala perbuatan Allah dalam kehidupan.  Bagaimana dengan hidup kita hari ini?  Adakah kita masih mengakui perbuatan Tuhan dalam hidup?  Kalau ya, dengan cara apakah kita mengungkapkan kebesaran Tuhan?  Mari mengakui dan memuji kebesaran Tuhan dalam hidup kita sebagai wujud pengenalan yang benar kepada Allah. 

Mengenal Dia yang besar membuat kita selalu memuji kebesaranNya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«