suplemenGKI.com

Kamis, 25 Juni 2020

24/06/2020

Mazmur 89:16-19

 

“Kebahagiaan di dalam Allah”

Pengantar:
            Dalam suatu renungan dari santapan harian, ada sebuah kesaksian tentang Brother Lawrence, seorang biarawan dari abad ke-17. Dia terbiasa berdoa sebelum memulai segala aktivitas sehari-harinya sebagai juru masak di komunitasnya. Doanya demikian: “Ya Allahku berilah kepadaku anugerah-Mu untuk tinggal dalam hadirat-Mu. Tolonglah aku dalam pekerjaanku. Kuasailah seluruh perasaanku”. Selama bekerja, ia senantiasa berbicara kepada Allah, memperhatikan petunjuk-Nya, dan mengabdikan pekerjaannya itu kepada Tuhan. Bahkan pada saat ia sangat sibuk, ia akan mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri dan memohon anugerah-Nya. Apa pun yang terjadi, Lawrence mengutamakan fokus pada kasih dari Allah. Kebiasaannya itulah yang membuat Lawrence selalu merasa bahagia dalam beraktivitas. Hari ini kita menyaksikan kebahagiaan pemazmur yang hidup di dalam Allah.

Pemahaman:

  1. Apa saja yang menunjukkan bahwa pemazmur berbahagia di dalam Allah? (v. 16-17)
  2. Apakah makna pernyataan-pernyataan pemazmur dalam ayat 18-19?

Jika kita perhatikan syair-syair pemazmur mulai dari ayat 6-19, sangat kental dengan ungkapan-ungkapan tentang kesetiaan Allah yang tidak ada bandingnya, misalnya di ayat 7 “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan Tuhan, yang sama seperti Tuhan di antara penghuni surgawi? (Lih. juga v 9). Sifat Allah yang tidak ada bandingnya baik di langit maupun di antara orang-orang kudus-Nya, itulah yang menjadi sumber kebahagiaan bagi pemazmur. Walaupun kehidupan pemazmur atau umat Tuhan dalam konteks saat itu tidak terluput dari berbagai hal yang bisa membuatnya menderita, perhatikan ayat 10-11, 15, 23-24, itu semua mengindikasikan bahwa umat Allah saat itu juga mengalami tekanan musuh dan ketidakadilan. Namun pemazmur tidak memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa merenggut kebahagiaannya, melainkan fokus kepada Allah yang tidak terbandingkan kasih setianya. Ungkapan “Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai…mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorai sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah” (v. 16-17) itu menegaskan bahwa apapun yang terjadi di sekitarnya tidak akan mempengaruhi kefokusannya kepada Allah. Penghayatan yang demikian menolong umat-Nya untuk mampu melihat cahaya Allah yang menerangi hidupnya. Ayat 18-19, menunjukan bahwa di dalam Allah, tersedia kemuliaan, perlindungan dan pimpinan yang membuat umat-Nya mengalami kebahagiaan sejati. Sungguh indah hidup di dalam Allah.

Refleksi:
Hari-hari ini dunia terus-menerus membuat kita kehilangan bahagia, tetapi pemazmur  mengingatkan kita bahwa kebahagiaan hanya bisa dialami ketika kita hidup di dalam Allah.

Tekadku:
Ya Tuhan Sang sumber kebahagiaan sejati, saya bersyukur karena Engkau berkenan menjadi sumber kebahagiaan dalam hidup saya.

Tindakanku:
Saya mau terus hidup di dalam Allah karena di dalam Allah saja ada kebahagiaan, walaupun keadaan di sekeliling saya terus-menerus ingin membuat saya kehilangan kebahagiaan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«