suplemenGKI.com

Kamis, 25 Juli 2013

24/07/2013

Amsal 9:13-18

 

Hikmat yang Sesungguhnya adalah Menjauh dari Dosa

 

Pengantar
Kalau kemarin kita merenungkan personifikasi hikmat yang menyerupai gambaran perempuan berhikmat dalam Amsal 31:10-31, maka hari ini kita akan merenungkan bagaimana personifikasi hikmat itu dipertentangkan dengan perempuan bebal. Kalau kemarin kita melihat bagaimana guru hikmat mengundang kita ke rumah didiknya, maka hari ini kita juga akan diperingatkan akan adanya undangan yang lain, yaitu dari perempuan bebal itu. Dengan demikian kita dapat lebih waspada dalam menerima undangan.

Pemahaman
ay. 13-14: apakah Saudara dapat melihat persamaan antara gambaran perempuan di sini dengan gambaran perempuan di dalam kitab Amsal 7:11-15, 26-27?
ay. 15-17: apakah persamaan antara undangan perempuan bebal dengan undangan hikmat dalam ayat 4? Apa pula perbedaan dari kedua undangan tersebut?

Perempuan dalam nas kita hari ini disebut bebal. Arti hurufiah dari bebal di sini adalah bodoh. Namun kebodohan di sini tidak terkait dengan kemampuan intelektual, melainkan dengan moralitas. Sebab kehadiran perempuan itu dalam teks kita adalah dalam rangka untuk dipertentangkan dengan personifikasi hikmat. Lagipula perempuan bebal itu juga disebut tidak berpengalaman, yang dalam bahasa aslinya mencakup pengertian tak bermoral. Nampaknya itu pula yang membuat ia disebut tidak tahu malu.

Seperti halnya hikmat berada di depan pintu-pintu gerbang kota (Ams. 1:21) dan juga di tempat-tempat umum (Ams. 8:2), demikianlah perempuan bebal tersebut berada di depan pintu rumahnya atau kadang berada di tempat-tempat tinggi, di mana ia dengan mudah dilihat orang.

Sebagaimana hikmat menyerukan undangan, demikian pula perempuan bebal itu menyerukan undangan kepada orang-orang yang lalu lalang di depan rumahnya atau yang sedang berjalan-jalan tanpa arah tujuan. Ada dua karakteristik orang yang diundang perempuan bebal itu, yakni mereka yang tak berpengalaman dan yang tidak berakal budi. Kedua karakteristik orang yang diundang ini sama persis dengan mereka yang diundang oleh hikmat dalam ayat 4. Namun apa yang ditawarkan kepada mereka sama sekali bertolak belakang. Perempuan bebal nan cerewet itu menawarkan air dan roti, yang kadang digunakan sebagai lambang hubungan seksual. Dalam Amsal 5:15, air digunakan sebagai lambang hubungan seksual. Sehingga “air curian” dapat dimengerti sebagai hubungan seksual yang terlarang, namun terasa manis. Demikian juga halnya dengan ungkapan “roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi” dapat dikaitkan dengan hubungan seksal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nampaknya, segala sesuatu yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, akan terasa lebih nikmat bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan secara terbuka – walaupun hal ini hanya semacam sugesti saja.

Akibat dari menerima undangan tersebut digambarkan penulis kitab Amsal sebagai berada di dalam dunia orang mati (ay. 18). Mungkin secara fisik orang tersebut masih hidup, akan tetapi secara psikis dan moral ia sudah mati. Ia tidak saja kehilangan harta benda, tetapi kehilangan seluruh status sosialnya.

Refleksi
Seberapa cerdaskah kita? Mungkin sebagian dari kita memiliki kecerdasan intelektual di atas 120. Namun pertanyaan “Seberapa cerdaskah kita?” ini mengacu pada kecerdasan spiritual yang memungkinkan kita memilih untuk merespon undangan hikmat atau undangan kebebalan.

Tekad
Doa: Tuhan, tolonglah saya agar dapat mengenali undangan dari hikmat agar terhindar dari undangan dari kebodohan. Amin.

Tindakan
Salah satu tindakan yang dapat kita lakukan adalah berdoa agar umat Allah belajar berburu hikmat Tuhan, dan bukannya nikmat kehidupan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«