suplemenGKI.com

Kamis, 23 Juli 2015

22/07/2015

Kasih Allah dalam Penjara [a]

Efesus 3:14-21

Pengantar

Pernahkah Saudara berkunjung ke dalam penjara? Bagaimana kesan Saudara? Atau, kalau belum pernah berkunjung ke penjara, apakah yang kita bayangkan tentang sebuah penjara? Perenungan kita hari ini berkaitan dengan perilaku seseorang yang ada di dalam penjara.

Pemahaman

- Ayat 14                 :Apakah yang membuat rasul Paulus sujud kepada Bapa?

- Ayat 14-15, 21     : Bagaimanakah pemahaman rasul Paulus tentang Allah, ketika Ia berada di dalam penjara?

Dalam kebanyakan kasus, orang melihat berada dalam penjara sebagai wujud bahwa dirinya telah dijahati sesama. Misalnya saja, ada orang yang merasa dimanfaatkan oleh orang lain untuk mengantarkan kopor kepada seseorang, tanpa mengetahui bahwa isi kopor itu adalah narkoba. Contoh lainnya, ada orang yang merasa dicurangi dalam hubungan bisnis, namun malah ia sendiri yang dinyatakan sebagai pelaku kecurangan tersebut. Kalaupun benar orang tersebut telah melakukan suatu kesalahan, ia tetap merasa keadilan tidak berpihak kepadanya. Hukumannya tidak setimpal dengan kesalahannya. Deretan contoh ini masih dapat diperpanjang dengan berbagai kasus yang lain, yang semuanya berujung pada kekecewaan terhadap Tuhan. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan rasul Paulus. Pada saat ia berada di dalam penjara, ia justru sujud kepada Allah, “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa” (ay. 14). Sikap ini didasarkan pada keyakinan bahwa keberadaannya di dalam penjara ini bukanlah suatu hal yang hina, tapi menjadi berkat bagi orang lain (ay. 13). Rasul Paulus dipenjarakan karena memberitakan Injil Kristus, suatu tindakan yang membuat orang lain – dalam hal ini mereka yang tinggal di Asia Kecil – dapat menerima keselamatan.

Meski rasul Paulus dipenjarakan karena pelayanan yang dilakukannya, namun ia tidak melihat Allah secara negatif. Ia tidak menganggap Allah sebagai Pribadi yang kehilangan otoritas dan meninggalkannya. Rasul Paulus tetap menyatakan bahwa Dialah asal muasal dari segala sesuatu (ay. 15). Dia adalah Pribadi yang sanggup untuk melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang kita doakan atau pikirkan (ay. 20). Karena itu bagi rasul Paulus, Dia adalah Pribadi yang layak untuk menerima kemuliaan di dalam Jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya (ay. 21)

Refleksi

Seringkali kita menjadikan kesesakan hidup sebagai alasan untuk memprotes Allah, sehingga gagal untuk mengakui bahwa segala kemuliaan hanyalah bagi Dia.

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk tetap konsisten mengakui bahwa hidup ini hanyalah bagi kemuliaan-Mu saja. Amin.

Tindakan

Untuk belajar fokus pada kemuliaan Tuhan, malam ini saya akan bersyukur paling sedikit atas 3 (tiga) hal yang terjadi dalam hidup saya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«