suplemenGKI.com

Kamis, 22 Juli 2021

21/07/2021

TETAP BERIMAN DI MASA SUKAR

II Raja-raja 4:42-44

 

Pengantar
Kekuatiran adalah hal wajar yang terjadi dalam diri setiap manusia. Penyebabnya pun beragam, misalnya: kuatir karena pekerjaan yang tak kunjung didapatkan, ketidakmampuan dalam menafkahi keluarga, pendidikan anak-anak, dan lain sebagainya. Dalam kondisi parah, kekuatiran itu dapat menyebabkan kehidupan seseorang menjadi terganggu dan memicu gaya hidup yang buruk. Jika seseorang melihat kekuatiran dari sudut pandang yang positif, maka akan memotivasi dirinya untuk mencari jalan keluar atau bekerja keras mencapai tujuan. Saudara, masa sukar dan kekuatiran sejatinya tak dapat dihindari. Suka atau tidak, kita akan berhadapan dengan realita itu. Lantas, bagaimanakah sikap kita ketika dilanda oleh masa sukar?

Pemahaman

  • Ayat 42a         : Apa sajakah yang dibawa oleh orang Baal-Salisa kepada Elisa? Mengapa ia memberikannya pada Elisa?
  • Ayat 42b-44   : Apa tindakan Elisa terhadap pemberian orang Baal-Salisa itu?

Teks hari ini dilatarbelakangi oleh krisis yang terjadi di Gilgal. Pada saat itu, seluruh negeri sedang dilanda oleh bencana kelaparan. Dalam kondisi demikian, dapat dibayangkan betapa banyak orang yang sangat kuatir dan tawar hati akan hidupnya. Bisa jadi dalam kesukaran itu, mereka hampir kehilangan pengharapan dan daya juang.  Bahkan Elisa yang saat itu tengah kedatangan rombongan nabi, turut bergumul dengan bencana kelaparan yang terjadi. Tetapi Tuhan tidak tinggal diam.  Datanglah seseorang dari Baal-Salisa yang memberikan dua puluh roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong (ayat 42a). Orang Baal-Salisa ini memberikan memberikan persembahan kepada Elisa sebagaimana yang tertulis dalam Bilangan 18:13 dan Ulangan 18:4.

Elisa mengenali dan menerima makanan itu sebagai berkat dari Allah. Oleh karena itu ia memerintahkan pada pelayannya untuk membagikan makanan pada 100 orang nabi (ayat 42b). Melihat jumlah roti yang tidak mencukupi, pelayan Elisa itu pun menjadi ragu dan mulai mengkalkulasi melihat untung rugi jika ia melakukan perintah Elisa. Akan tetapi Elisa tidak memikirkan diri sendiri, melainkan berbelas kasih atas realita kelaparan yang terjadi di Gilgal. Elisa menggunakan iman percayanya bahwa makanan yang dihadapannya akan cukup untuk dihidangkan dan ada sisanya. Apa yang ia yakini pun benar-benar terjadi (ayat 43). Melalui peristiwa ini, Elisa hendak mengajarkan pada umat bahwa Tuhan akan menyatakan kekuasaan dan pemeliharaan-Nya, bahkan mungkin melebihi yang kita butuhkan. Sehingga dalam masa sukar, umat harus tetap beriman akan kuasa dan kehadiran Allah dalam hidupnya.

Refleksi
Merasa kurang, tak mampu, dan mudah menyerah adalah karakteristik manusia ketika masa sukar menghimpit hidupnya. Bahkan ada pula orang Kristen yang menempuh jalan pintas hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Padahal Tuhan menyediakan banyak cara yang tak diduga untuk menolong kita. Bersediakah kita dididik untuk hidup mendengar suara-Nya dan tetap beriman dalam segala situasi?

Tekadku
Tuhan, ampuni bila selama ini aku masih kurang bersyukur dan berpuas diri atas segala berkat pemeliharaan-Mu. Tolonglah agar aku tetap beriman akan kuasa dan kehadiran-Mu.

Tindakanku
Hari ini aku akan meluangkan waktu untuk berdoa bagi anggota keluarga / rekan pelayanan / rekan kerja yang saat ini tengah mengalami kesukaran hidup oleh karena dampak pandemic covid-19.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«