suplemenGKI.com

Mazmur 62:10-13.

 

Kuasa adalah Dari Allah Asalnya

 

Pengantar:
Ketika musim Pilkada, Pilleg maupun Pilpres Indonesia ini menjadi panggung persaingan untuk merebut kekuasaan. Berbagai cara, strategi dan upaya dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan. Dan yang paling memuakkan adalah perang saling menjelekkan antara satu kandidat terhadap kandidat yang lain. Tujuannya hanya satu, yaitu demi merebut kekuasaan. Dan ketika sudah berkuasa ia akan bebas untuk memperkaya diri sendiri, meraup pengaruh seluas-luasnya. Tapi sebetulnya dari mana kekuasaan itu sesungguhnya?

Pemahaman:

  1. Mengapa pemazmur mengumpamakan kemuliaan orang-orang yang berkuasa itu suatu dusta, hina dan kekuasaan mereka seperti angin ringan sekali?
  2. Mengapa pemazmur menyarankan supaya jangan mempercayai, jangan menaruh harapan kepada mereka, karena akan sia-sia!
  3. Sebenarnya kekuasaan itu dari mana?

Pemazmur sebenarnya menyindir orang-orang yang mengejar-ngejar kekuasaan duniawi demi kepentingannya semata. Orang-orang demikian adalah hina, pendusta, pemeras dan perampas. Kekuasaan, pengaruh, kedudukan itu hanya bersifat sementara dan bernilai ringan seperti angin, artinya sia-sia belaka. Yang melatarbelakangi pernyataan pemazmur itu adalah karena pada saat itu posisi sebagai penguasa, pemimpin yang seharusnya melindungi, memberi ketenangan dan mengayomi umat tetapi justru mereka memanfaatkan posisi, kedudukan hanya untuk memeras, merampas dan menindas umat.

Pemazmur kemudian dengan tegas mengatakan Janganlah percaya,…janganlah menaruh harapan,…janganlah hatimu melekat kepadanya” karena tidak akan memberi ketenangan, pengharapan apalagi keselamatan. Mereka sendiri justru akan binasa karena rampasan, dan harta hasil memeras itu.

Pemazmur menyatakan dengan jelas bahwa “Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia ya Tuhan” (v.12-13a) Hal itu hendak menegaskan bahwa kuasa yang sesungguhnya hanya berasal dari Allah. Allah satu-satunya sumber kuasa atas semesta dan segala isinya, dan kepada Dia sajalah semua mahkluk harus menyembah dan percaya.

 

Refleksi:
Dunia dengan mudah memanipulasi kekuasaan Allah untuk kepentingan dirinya sendiri, dengan cara memanfaatkan kedudukan, posisi dan jabatannya yg sesungguhnya sebuah kesempatan dari Allah untuk menyatakan kekuasaan Allah yang memberi ketenangan, pengharapan dan keselamatan bagi sesama.

 

Tekad:
Tuhan Yesus, tolonglah agar aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyatakan kuasa-Mu bagi sesama apabila aku diberi kesempatan memiliki posisi, kedudukan dan jabatan.

 

Tindakan:
Jika aku mendapat kesempatan untuk memiliki posisi, kedudukan dan jabatan aku akan menggunakannya untuk memperkenalkan kuasa yang dari pada Allah kepada dunia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«