suplemenGKI.com

Mazmur 97:10-12 

Respon Yang Layak Terhadap Allah Yang Dahsyat. 

            Ketika saya masih kuliah, ada seorang dosen yang sangat jarang berbicara dengan mahasiswa/i kecuali kalau sedang mengajar. Namun walaupun demikian dosen tersebut selalu menunjukkan wajahnyang lembut dan damai. Setiap kali ketika dia berbicara hampir tidak ada kalimat yang tidak mengandung makna atau dengan kata lain setiap perkataannya selalu menjadi sebuah nasihat atau teguran yang membangun bagi setiap mahasiswa yang mendengarkannya. Dengan keberadaannya yang demikian maka hampir semua mahasiswa tidak ada yang berani bersenda gurau dengan dosen tersebut, apalagi berlaku tidak sopan terhadapnya.

Suatu kali ketika usai mengikuti kuliah, kami berkerumun di depan kelas. Entah mengapa dosen tersebut mendekat dan membaur dengan kita semua. Ketika suasana perbincangan mulai terbangun dengan baik, tiba-tiba dosen itu menunduk, lalu jongkok berkeliling tidak jauh dari sekitar kerumunan kami. Kami semua menjadi sangat kaget bercampur malu, ternyata yang dilakukannya adalah memungut sampah-sampah permen yang berserakan di lantai. Mungkin karena kuliah padat yang melelahkan sehingga ada beberapa mahasiswa/i yang makan permen kemudian membuang bungkusnya tidak pada tempatnya. Ketika kami melihat apa yang dilakukan oleh dosen tersebut, rasanya muka kami ditampar oleh diri kami sendiri, begitu malunya kami saat itu. Bagi kami tindakkan dosen itu sebuah kuliah yang dahsyat dan bernilai tinggi. Setelah itu kami semakin respek dan hormat kepada dosen tersebut. Mazmur 97 ini menunjukkan suatu respon yang pantas bagi Allah yang adalah Raja yang dahsyat karena pertolongan dan kasih-Nya kepada umat-Nya. 

  1. Menurut anda, mengapa pemazmur dengan lantang berseru “Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan!” Apa kaitan membenci kejahatan dengan respon kepada kasih Allah?
  2. Menurut anda, apa yang harus menjadi tanggungjawab bagi orang yang meresponi Tuhan mau meresponi Allah yang dahsyat? 

Renungan:

            Kalau kita melihat konteks dari ayat-ayat di mazmur 97, khususnya ay. 7 ada kesan bahwa kejahatan yang paling dibenci oleh Tuhan adalah beribadah kepada patung dan menyembah berhala-berhala. Pada jaman pemazmur memang umat Israel sering tergoda untuk menyembah dan beribadah kepada berhala-berhala. Hal itu pula yang akhirnya membuat Tuhan begitu murka terhadap mereka dan berujung pada penghukuman dengan membuang umat Israel ke Babel. Maka jika pemazmur berseru agar orang-orang yang merasa mengasihi Tuhan, mau tidak mau suka tidak suka harus meninggalkan berhala. Tentu dalam pengertian agar lebih setia dan memuliakan Tuhan yang telah memelihara dan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik. Ketika umat meresponi Tuhan dengan layak, maka sudah tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi pertimbangan lain selain setia dan taat kepada Allah dengan sungguh-sungguh.

            Sebagai umat yang meresponi Tuhan dengan layak, maka yang harus menjadi tanggungjawabnya adalah melayani Tuhan, memasyurkan dan mengagungkan Tuhan dengan segala aspek kehidupan yang tulus. Kalimat “Bersukacitalah karena Tuhan…nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus” adalah mengindikasikan bahwa segala sesuatu yang terbaik yang dihasilkan dengan niat hati yang baik dan tulus serta kegembiraan tanpa ada tekanan itu semua harus dialamatkan untuk kemuliaan Tuhan. Dalam bahasa sederhana, ketika kita melayani Tuhan, ketika kita mengabarkan kebaikan Tuhan harus dilakukan dengan dasar hati yang bergembira, sukacita dan sukarela bukan dengan beban berat atau terpaksa. Itulah makna respon yang layak bagi Tuhan. Pernahkah kita menyadari ketika kita melayani tidak dengan syukur dan bergembira melainkan dengan terpaksa atau beban berat? jika hal itu yang terjadi maka kita sudah tidak meresponi Tuhan dengan layak, pada saat yang sama kita juga tidak mengakui kedahsyatan kuasa-Nya. Hal yang berbaik adalah segera sadar dan bertobat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*