suplemenGKI.com

Lukas 18:9-14

”Yang Tinggi dan Yang rendah di Hadapan ALLAH”

Perumpamaan yang dipaparkan oleh TUHAN YESUS dalam perikop ini mengisahkan tentang dua orang yang sama-sama melakukan kewajiban ibadah mereka. Memang  ibadah yang mereka lakukan bukan dalam format ibadah bersama melainkan dalam bentuk ibadah pribadi. Namun mereka datang dalam waktu yang bersamaan. Jadi, melalui perumpamaan ini YESUS ingin menyoroti bahwa saat itu mereka sama-sama berdoa, di tempat dan waktu yang sama pula. Akan tetapi, kendatipunpun secara kasat mata mereka memiliki kesamaan, tetapi ternyata di mata ALLAH posisi mereka begitu berbeda (tidak sama).

Þ  Apa sebenarnya yang menjadi tujuan TUHAN YESUS ketika memaparkan perumpamaan ini? (ayat 9)

Þ  Apa yang menjadikan kedua orang dalam perumpamaan itu begitu berbeda itu di mata ALLAH? (ayat 10-13)

Þ  Di mata ALLAH, siapa yang dianggapNya rendah dan siapa yang dianggapNya tinggi? (ayat 14)

Renungan:

Tuhan Yesus memakai perumpamaan dalam Lukas 18:9-14 ini dengan  tujuan untuk mengecam setiap orang yang pada waktu itu menganggap diri paling hebat/suci/benar dari orang lain sehingga secara langsung dan tidak langsung, mereka menuntut agar orang lain menjadikan diri mereka sebagai teladan. Orang-orang yang sedemikian perlu mendapat pelajaran keras dari YESUS sebab jika tidak, maka mereka akan terus berkutat pada ”anggapan” tentang kehebatan dan keluarbiasaan mereka.

Lalu YESUS membawa mereka untuk mencermati dan merenungi kisah Orang Farisi dan Pemungut Cukai dalam perumpamaan yang Dia berikan. Meski kedua orang itu hadir di tempat dan waktu yang sama, bahkan dalam urusan yang sama, yaitu berdoa, namun mereka memiliki perbedaan besar. Perbedaan itu bukanlah dilihat dari profesi dan posisi mereka melainkan dari tingkah laku dan tabiat yang mereka tunjukkan di depan banyak orang dan di hadapan TUHAN. Orang Farisi ini tampil dengan begitu sombong dengan daftar doa panjang yang mencatat kebaikannya sendiri. Sedangkan si Pemungut Cukai datang dengan kondisi tak berdaya sebagai orang yang terbelenggu oleh dosa.

Orang Farisi ini begitu berani menggembar-gemborkan diri sebagai orang benar agar ia bisa mendapat pujian. Namun jika kita melihat perilaku seperti ini yang kemudian membuat Kristus menyematkan sebutan ”munafik” kepada mereka, maka kita menjadi paham bahwa orang seperti ini malahan dilihat ALLAH sebagai orang yang sangat rendah. Berbeda dengan kondisi Pemungut Cukai yang merasa diri tak layak di hadapan ALLAH. Tak ada satupun kata-kata pujian meluncur dari bibirnya. Yang ada hanya permohonan belaskasihan bagi dirinya yang penuh dengan dosa. Dan ternyata, justru di hadapan ALLAH, Pemungut Cukai inilah yang tidak direndahkan oleh ALLAH. Mengapa bisa begitu?

Ketika seseorang begitu membanggakan dan mengandalkan kehebatan diri sendiri, maka secara otomatis mereka sedang menggantungkan seluruh keberadaannya pada hal-hal yang posisinya jauh di bawah ALLAH, sehingga di mata ALLAH mereka begitu rendah adanya. Sebaliknya, seperti halnya si Pemungut Cukai itu, seorang yang merasa tak berdaya dan memilih bergantung pada kasih karunia ALLAH maka sesungguhnya dia sedang diangkat dengan sangat tinggi oleh ALLAH sendiri. Maka, dapat dipahami bahwa orang yang sedemikianlah yang tinggi di mata ALLAH.

Melalui perenungan ini kita belajar bahwa bergantung pada kekuatan manusia/dunia yang fana ini sungguh sia-sia dan tak pernah dapat membawa kita lebih tinggi atau mulia di mataNya.

”Tidak perlu mencoba mengangkat diri dengan cara dan standar duniawi,

karena cara itu tidak akan membawa kita menjadi lebih tinggi di mata Bapa Sorgawi.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«