suplemenGKI.com

Kamis, 21 Juni 2018

20/06/2018

MELIBATKAN ALLAH

Mazmur 107:23-29

 

PENGANTAR
Ada ungkapan, “respons pertama menghadapi persoalan, akan menentukan berhasil tidaknya  seseorang menyelesaikan persoalan tersebut”.  Benarkan ungkapan tersebut?  Mari kita baca dan renungkan bagian perikop ini.  

PEMAHAMAN

  • Apa yang pemazmur ceritakan tentang pekerjaan manusia? (ayat 23-24)
  • Apa yang kemudian dialami manusia dalam kehidupannya? (ayat 25-27)
  • Apa yang seharusnya manusia lakukan dalam pergumulan hidupnya? (ayat 28)
  • Apa yang saudara lakukan ketika menghadapi pergumulan hidup?

Rangkaian ayat yang kita baca merupakan bagian dari Mazmur 107, yang menceritakan dua kebenaran.  Satu, tentang pergumulan kehidupan yang siapapun pasti mengalaminya, termasuk umat Tuhan. “Ada orang yang mengembara di padang belantara . . . mereka lapar dan haus” (ayat 4, 5); “ada orang yang duduk di dalam gelap dan kelam . . . mereka tergelincir, dan tidak ada yang menolong” (ayat 10, 12); juga “ada orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal . . . mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk” (ayat 23, 27).  Hal kedua yang menarik, sebelum ragam pergumulan tersebut berhasil dilewati, pemazmur menceritakan tentang respons positif, “berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka” (ayat 6, 13, 19, 28).  Artinya, pemazmur bukan hanya bersedia menjalani “kesesakan” tapi juga tidak membiarkan “kesesakan” merenggut keyakinan iman mereka kepada Tuhan. Frasa “berseru-serulah mereka kepada Tuhan” menjadi ekspresi iman dan harapan bahwa tidak ada persoalan yang terlalu besar untuk tidak Tuhan selesaikan bersama/bagi umat-Nya.  Pertanyaannya, adakah iman dan kesediaan diri melibatkan Tuhan di setiap persoalan?

Salah satu yang menghalangi hidup berpengalaman bersama Tuhan adalah sikap “merasa diri mampu” menyelesaikan persoalan dengan kekuatan sendiri, tanpa Tuhan.   Pemazmur mengajak umat Tuhan bersikap sebaliknya, melibatkan Tuhan di setiap perjalanan kehidupan.  Makna “Melibatkan” sangat berbeda dengan “memanfaatkan” Tuhan.  Memanfaatkan Tuhan umumnya, hanya ketika ada persoalan;  seolah Tuhan menjadi benteng terakhir menghadapi persoalan. Tujuannya supaya terhindar dari persoalan.   Beda dengan melibatkan Tuhan yang dipahami sebagai sikap iman yang didasarkan pada kesadaran akan ketidakmampuan manusia mengerti jalan hidupnya;  sekaligus merupakan pengakuan bahwa Tuhan hadir dan senantiasa berkarya mendatangkan kebaikan melalui  kehidupan umat-Nya.  Pemazmur mengajak umat percaya untuk melibatkan Tuhan dengan cara “berseru-seru” melalui doa.  Percayalah, Tuhan akan membuat “badai itu diam” (ayat 29a).  Jadi mari kita mengijinkan Tuhan menguasai hidup dan kehidupan kita.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Melibatkan Tuhan merupakan pengakuan bahwa Tuhan hadir dan senantiasa berkarya mendatangkan kebaikan. 

TEKADKU
Tuhan Yesus, mampukan aku untuk melibatkan Engkau di seluruh proses kehidupanku yang aku wujudkan dengan selalu berseru-seru kepada-Mu. 

TINDAKANKU
Aku berkomitmen menjaga kehidupan ibadah dan doaku sebagai wujud aku melibatkan Dia dan penyerahan hidupku kepada-Nya.  Aku akan menyediakan waktu …….. (pagi, sore, malam) untuk selalu berdoa kepada-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«