suplemenGKI.com

Kamis, 20 Mei 2021

19/05/2021

Mazmur 104:31-35

 

“KEMULIAAN-NYA TETAP SELAMA-LAMANYA”

Pengantar:
Jabatan, kedudukan dan keberadaan seseorang memungkinkannya untuk dipanggil dengan panggilan “Yang Mulia”. Misalnya seorang pemimpin besar, pejabat pemerintah atau tokoh masyarakat dan sebagainya. Panggilan “yang mulia” melekat padanya selama ia berada pada posisi yang terhormat. Tetapi ketika posisi tersebut berakhir ia tidak lagi dipanggil “yang mulia” artinya panggilan mulia bagi manusia itu ada batas masa berlakunya. Bagaimana dengan Tuhan Allah kita! Bacaan hari ini menunjukan kemuliaan Tuhan Allah kita adalah bersifat kekal.

Pemahaman:

  1. Apa yang bisa kita pahami melalui pernyataan-pernyataan pemazmur dalam ayat 31-34?
  2. Apakah yang hendak ditegaskan oleh pemazmur melalui pernyataannya di ayat 35?

Jika kita membaca dengan teliti keseluruhan Mazmur 104, kita akan tahu bahwa Pemazmur itu sangat mengenal siapa Allahnya. Pemazmur mungkin sama dengan kita, ia tidak pernah berjumpa atau bertemu muka dengan Allah, namun pemazmur dapat menyaksikan dengan jelas kemuliaan Allah melalui segala keindahan semesta, keteraturan seluruh ciptaan dan ketelitian menata dan menempatkan segala ciptaan-Nya sesuai dengan jenis, ukuran, fungsi dan sifatnya masing-masing (perhatikan renungan kemarin). Semua itu membuat pemazmur terkagum-kagum kepada Allah, sehingga pemazmur dalam syair doanya ia berketetapan memuliakan Allah untuk selama-lamanya. Bagi pemazmur Allah sangat layak untuk mendapat kemuliaan yang tanpa batas. Pemazmur juga bertekad untuk menunjukan atau mengekspresikan bahwa ia memuliakan Tuhan tanpa batas dengan lebih konkrit. Jika kita meneliti pernyataan pemazmur di ayat 33-34, itu bukan sekadar pernyataan biasa, melainkan pernyataan komitmen dari hati terdalam bahwa ia akan memuliakan Tuhan melalui puji-pujian dan perenungan tentang kebesaran Tuhan selama ia masih kuat dan masih hidup. Semuanya itu berangkat dari pemahamannya yang begitu baik tentang: kebesaran, keperkasaan, kemuliaan, dan kedahsyatan Tuhan. Di sisi lain pemazmur dengan tegas tidak mau berpihak pada orang-orang yang hidupnya tidak memuliakan Tuhan. Pemazmur dengan nada keras membenci orang-orang yang mempergunakan hidupnya untuk dosa, bila perlu mereka yang demikian sebaiknya tidak perlu ada di bumi ciptaan Tuhan (v.35).

Refleksi:
Saudara, jika kita masih diberikan kesempatan untuk memuliakan Tuhan melalui karya-karya,  pelayanan atau hidup kita lakukanlah dengan sungguh-sungguh karena Dia memang layak untuk kita muliakan selagi kita diberi kesempatan untuk hidup.

Tekadku:
Tuhan Yesus, ampuni jika kami belum mampu memuliakan Engkau dengan sungguh-sungguh.

Tindakanku:
Mari saudara-saudara selagi masih ada kesempatan kita pergunakan seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan dengan sungguh-sungguh, jangan gunakan hidup ini untuk dosa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»