suplemenGKI.com

Kamis, 19 Mei 2016.

18/05/2016

Mazmur 8:4-6.

 

Menyadari Anugerah Allah Yang Begitu Besar

Pengantar:

Suatu hari seorang remaja putri disuruh ibunya pergi ke sebuah toko sembako, dengan membawa uang seribu rupiah untuk membeli beras, karena mereka sudah kehabisan beras dan uangpun hanya tinggal seribu rupiah. Ibunya berpesan, “nak pergilah ke toko sebelah bawalah uang yang tinggal seribu rupiah ini untuk membeli beras, seberapapun beras yang akan diberikan oleh pemilik toko itu, bawalah pulang supaya ibu bisa memasak bubur buat kebutuhan kita sekeluarga” Remaja itu merasa begitu berat untuk melangkah, tetapi akhirnya dia berangkat juga ke toko tersebut dan membeli beras dengan uang tersebut. Ketika pemilik tokoh itu bertanya “mengapa hanya membeli beras seribu rupiah?” remaja itu dengan terpaksa mengatakan bahwa uang mereka hanya tinggal seribu rupiah. Kemudian pemilik toko itu berkata, “simpan uangmu, dan bawalah ini” sambil menyodorkan beras dalam kemasan lima kilogram. Remaja ini terdiam, merasa tidak layak menerimanya, namun kembali sang pemilik toko berkata, “tidak apa-apa, bawalah pulang supaya ibumu segera memasaknya, tidak perlu bayar”  Remaja itu kemudian sambil menangis menyampaikan ucapan terima kasih kepada sang pemilik toko yang telah memberikannya beras itu.

Pemahaman:

1)      Apakah yang mendasari perasaan pemazmur dalam ungkapan pujiannya di ayat 4-5?

2)      Bagaimanakah sesungguhnya nilai manusia di mata Tuhan yang penuh anugerah itu? V.6.

Pujian pemazmur pada ayat 4 dibuka dengan kalimat “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu…” adalah pemazmur mencoba untuk mengukur betapa berkuasanya, betapa besarnya dan betapa mulianya Tuhan itu. Kemudian begitu pandangannya mengarah ke langit, pemazmur kemudian seakan mendapat jawaban, bahwa Tuhan itu tidak bisa diukur dengan apapun juga yang bisa dipikirkan oleh manusia. Apalagi ketika pemazmur membandingkan langit buatan tangan Tuhan dengan dirinya, ternyata semakin tidak bisa dipahami betapa besarnya kuasa Tuhan itu. Menyadari bahwa Tuhan itu begitu berkuasa, pemazmur kemudian melihat dirinya samasekali tidak berarti di hadapan Tuhan, tetapi Tuhan mempedulikannya, diapun bertanya “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” Hal itu membawanya pada kesadaran bahwa hidupnya hanya karena anugerah Tuhan.

Anugerah Tuhan dalam hidup manusia itu oleh pemazmur dipandang sebagai sesuatu yang mulia. Kalimat hampir sama seperti Allah, bukan berarti manusia mendekati seperti Allah, tetapi manusia itu dianugerahi oleh Allah nilai yang melebihi dari segala ciptaan yang lain (band Kej 1:27; 2:7) Yang memungkinkan manusia untuk dapat memuliakan Tuhan.

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak, pernahkah kita membandingkan diri kita dengan ciptaan Allah yang lain? Bisakah kita melihat betapa besar anugerah Allah dalam hidup kita?

Tekad:
Semakin suka melayani dan menyukakan hati Tuhan sebagai wujud syukur kepada-Nya.

Tindakkan:
Setiap karya, aktifitas dan ucapan adalah untuk memuji dan mengagungkan Tuhan yang telah menyatakan anugerah-Nya yang begitu besar dalam hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*