suplemenGKI.com

Kecerdasan dalam Memancarkan Terang

1 Korintus 2:1-5

Pengantar

Pernahkah Saudara mengikuti tes kecerdasan? Bagaimanakah hasilnya? Apakah Saudara bangga dengan hasil tes tersebut? Atau sebaliknya, menjadi sedih, karena menyadari bahwa menurut tes kecerdasan itu Saudara bukanlah orang yang cukup pintar. Hari ini kita akan melihat bagaimana sikap rasul Paulus terkait dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Pemahaman

Ayat 1-3: kalau Saudara diminta untuk membuat profil rasul Paulus, kira-kira bagaimanakah Saudara menggambarkan dia?

Ayat 4-5: apakah yang menjadi alasan rasul Paulus mengulangi beberapa kali tentang kata-kata dan hikmat?

Ungkapan rasul Paulus, “…Aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat…” menyiratkan bahwa sebenarnya bisa saja ia datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab rasul Paulus adalah seorang yang cerdas. Reputasinya, sebagaimana yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul, yang sudah menjadi pemimpin di masa muda (Kis. 7:58 – 8:3), mendapatkan mandat dari Imam Besar untuk “membasmi” orang Kristen (Kis. 9:1-2), dan juga posisinya sebagai murid Gamaliel (Kis. 22:3), seorang rabi yang ternama (Kis. 5:34), merupakan beberapa bukti tentang kecerdasannya. Belum lagi kalau kita mengingat bagaimana ia berani beradu argumentasi dengan orang Atena di Areopagus (Kis. 17:16-34) merupakan beberapa bukti tentang kecerdasannya. Tetapi Paulus tidak menghadapi orang Korintus dengan kecerdasannya itu.

Sikap rasul Paulus yang tidak menggunakan kecerdasannya saat memberitakan Injil kepada orang Korintus merupakan sikap yang menarik. Sebab orang Korintus sangat mengagumi kepintaran. Sebagai kota yang memiliki dua pelabuhan, Korintusmenjadi kota yang terus-menerus mendapatkan ide baru. Penduduknya lebih berpikiran luas dibandingkan dengan penduduk dari kota-kota lain yang dikunjungi Paulus. ”Timur dan Barat bertemu di kota pelabuhan kuno ini,” kata seorang komentator Alkitab, ”membuat penduduknya sering mendengar segala macam ide baru, filsafat dan agama yang ditawarkan dunia ini.” Namun demikian rasul Paulus menegaskan paling sedikit 2 (dua) kali tentang penggunaan kecerdasan, “…aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat…” (ay. 1), “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan…” (ay. 4). Sebaliknya, ia memberitakan Injil dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman orang Korintus tidak bergantung pada hikmat manusia, sebagaimana selama ini mereka mengagumi kepintaran manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Refleksi

Rasul Paulus memberikan keteladanan untuk kita supaya mau lebih mengarahkan hati kepada kekuatan Allah daripada kepintaran manusia. Lalu, bagaimana dengan kita?

Tekad

Doa: Ya Tuhan, arahkan hatiku kepada kekuatan-Mu semata. Amin.

Tindakan

Saya mau lebih mengarahkan hati kepada kekuatan Allah daripada kepintaran manusia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*