suplemenGKI.com

Keluaran 20:7-11

JANGAN SALAH SEBUT NAMA

 

Pengantar
“Apalah arti sebuah nama” demikian ungkapan terkenal dari seorang pujangga Inggris, William Shakespeare.  Tidak jelas apa tujuan awalnya .  Namun saya menduga bahwa yang dimaksud  bukanlah seseorang boleh tanpa nama;  atau bisa berganti-ganti nama sesukanya.  Justru melalui ungkapan itu, William Shakespeare ingin menegaskan betapa bahwa nama yang dipilih selalu punya makna yang harus dihargai.   Kebenaran yang sama mestinya juga dipahami dalam konteks Allah dan namaNya

Pemahaman
Ayat 7a:  Apa yang Allah perintahkan di ayat ini?
Ayat 7b:  Bagaimana Allah memandang orang yang salah menyebut namaNya?
Ayat 8:  Apa yang Allah kehendaki tentang hari Sabat?
Ayat 9-11:  Apa intisari tentang penggunaan hari yang Allah maksudkan di bagian ini?

Ayat 7 mengungkapkan larangan untuk menyebut nama TUHAN Allah dengan sembarangan.  Menyebut nama dengan sembarangan jelas sembrono.  Apalagi bila nama yang dimaksud ditujukan kepada Tuhan Allah.  Sepertinya di semua kebudayaan manusia, nama selalu mempunyai makna.  Bahkan pilihan atasnya senantiasa lekat dengan sejarah tertentu.  Itu sebabnya, nama menjadi sarana mengungkapkan gambaran diri seseorang.  Paling tidak, sebagaimana namanya, seseorang kemudian digadang-gadang oleh orangtuanya dengan keyakinan bahwa hidup anaknya akan menjadi seperti makna dibalik nama itu.  Contohnya, nama Sugiharto yang bermakna kaya harta.  Demikian juga nama TUHAN yang dipahami Israel ketika itu.  Nama Tuhan merepresentasikan diriNya sebagai Tuan, yang ditinggikan, yang berkuasa, yang disembah dan yang satu-satunya dipercayai.  Jadi yang dimaksud “nama” di sini bukan kemutlakan pada istilah yang dipilih, tetapi lebih kepada sikap hormat pada makna yang dipahami bersama sebagai umat dalam memandang Sang Tuan.

Itu sebabnya yang dimaksud dengan “sembarangan” di ayat 7 mengacu pada sikap yang menyepelekan, tidak hormat, dan tidak menghargai pribadi yang mengenakan nama tersebut.  Bahkan sikap “sembarangan” ini dikontraskan dengan “kuduskanlah hari Sabat” (ayat 8) untuk menekankan pentingnya sikap hormat dan kudus kepada Allah.  Kekudusan dan   hormat itu tampak dari sikap yang mau mengutamakan Sabat sebagai hari yang dikhususkan buat Tuhan (ayat 8-11).  Jadi sikap salah sebut nama dalam konteks ini bukan karena Israel lupa, tetapi merupakan kesengajaan, dengan cara tidak mengakui Tuhan Allah yang ada dan berkarya di tengah umatNya.  Makna dibalik “jangan menyebut . . .dengan sembarangan” adalah pengakuan akan kedaulatan Allah sebagai satu-satunya pribadi yang berkuasa atas hidup umatNya

Refleksi
Bukan soal apa sebutannya, tetapi lebih kepada bagaimana menghormati nama dan kuasa Allah dalam sikap dan tindakan hidup sehari-hari.

Tekadku
Aku bertekad menjaga hidup sebagai cerminan sikap hormatku pada nama Allah.

Tindakanku
Aku ingin menyebut nama Tuhan dengan penuh hormat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«