suplemenGKI.com

Allah yang Memerdekakan (2)

Mazmur 34:12-23

 

Pengantar

Dalam perenungan sebelumnya, kita melihat bagaimana Pemazmur mengucap syukur kepada Allah atas pertolongan-Nya dalam memerdekakan umat-Nya, membebaskannya dari segala pergumulan. Hari ini kita akan merenungan pengajaran Pemazmur berdasarkan pengalamannya itu.

Pemahaman

-    Bagaimana Pemazmur menggambarkan kebahagiaan hidup orang yang takut akan Allah?

-    Apa yang seharusnya umat Allah lakukan pada waktu hidupnya menjadi goyah?

Kemarin kita melihat bahwa pada bagian akhir dari ungkapan syukurnya, Pemazmur berbicara tentang kehidupan yang takut akan Allah. Hari ini kita melihat seruan untuk hidup takut akan TUHAN itu diulangi lagi (ay. 12). Pemazmur menggambarkan kebahagiaan hidup orang yang takut akan TUHAN itu dengan umur yang panjang dan menikmati kebaikan di dalam kehidupannya (ay. 13). Sedangkan perilaku hidup orang yang takut akan TUHAN ditandai dengan dua hal, yaitu menjaga lidahnya (ay. 14) dan menjauhi yang jahat (ay. 15). Kedua hal tersebut dapat pula dikatakan sebagai menjaga perkataan dan perbuatannya agar berkenan kepada Allah. Menjaga lidah, yaitu perkataan, amatlah penting karena berbagai kesalah-pahaman, kecurigaan, percekcokan, penghinaan, penipuan, dsb, berasal dari perkataan yang sia-sia dan jahat. Selain menjaga perkataannya, orang-orang yang hidup takut akan TUHAN juga akan menjaga perbuatannya, yaitu dengan menjauhkan diri dari yang jahat serta melakukan kebaikan, serta mencari perdamaian dengan sungguh-sungguh mengupayakan untuk mendapatkannya. Perilaku orang yang takut akan TUHAN bukanlah perilaku yang pasif, sekadar tidak melakukan hal-hal yang jahat, melainkan perilaku yang aktif – melakukan hal-hal yang baik. Orang yang takut akan TUHAN juga memiliki karakter untuk mencari damai dengan sungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkannya. Karena upaya mencari damai di sini merupakan karakter dari kehidupan yang takut akan TUHAN, maka dapat pula dipahami bahwa pada dasarnya hidup damai dengan sesama merupakan cerminan dari hidup damai dengan Allah.

Terhadap orang-orang yang hidup dalam sikap takut akan TUHAN ini, Allah senantiasa peduli. “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (ay. 16). Hal ini dipertentangkan dengan sikap Allah terhadap orang yang hidup dalam kejahatan (ay. 17). Akibatnya, pada saat orang yang takut akan TUHAN itu berseru memohon pertolongan, maka TUHAN akan mendegarkan seruan itu serta melepaskan mereka dari segala kesesakannya (ay. 18-22). Ajaran Pemazmur mengenai pemeliharaan Allah terhadap orang yang takut akan TUHAN ini kemudian ditutup dengan penegasan ulang bagaimana TUHAN akan memerdekakan, yaitu TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman (ay. 23).

Refleksi

Pada saat kita menghadapi tekanan hidup, kadang kita goyah dan bertanya, adakah Allah peduli dengan kehidupan kita? Apakah Allah mau mendengarkan seruan doa kita serta memerdekakan kita? Pemazmur mengajarkan bahwa “mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong”

Tekadku

Doa: Bapa surgawi, tolong saya untuk terus meyakini bahwa Engkau peduli terhadap setiap pergumulan kami. Sebab Engkau senantiasa memperhatikan orang benar. Amin.

Tindakanku

Setiap kali saya menghadapi masalah, saya akan menengadah untuk meyakini bahwa mata TUHAN tertuju kepada saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«