suplemenGKI.com

Kamis, 18 Juni 2015

17/06/2015

2 Korintus 6:1-2, 11-13

MEMBUKA HATI, MEMULIHKAN HUBUNGAN

PENGANTAR
Hubungan dan kerja sama kita dengan rekan-rekan sepelayanan kita tidak selalu berjalan mulus. Demikian pula, kesalahpahaman dengan orang-orang yang kita layani dapat terjadi sewaktu-waktu. Tentu saja, ini dapat membuat efektifitas pelayanan kitaterganggu. Selain itu, kesalahpahaman semacam itu juga dapat membuat orang-orang yang kita layani menolak kita dan menolak Injil yang kita beritakan.

Memulihkan hubungan yang retak karena kesalahpahaman memang tidak mudah. Biasanya masing-masing pihak merasa dirinya benar dan merasa enggan untuk mengambil inisiatif untuk berdamai. Inilah yang sering membuat kesalahpahaman itu berkepanjangan. Padahal, berinisiatif dan berusaha untuk memulihkan hubungan dapat dilakukan oleh pihak yang mana pun, termasuk dari pihak kita. Meskipun tidak mudah, kita harus berinisiatif dan berupaya sepenuhnya memulihkan hubungan tersebut jika kita ingin tetap dipakai untuk memberitakan Injil-Nya.

PEMAHAMAN
Antara Paulus dan orang-orang di Korintus telah terjadi kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka menjadi tegang. Salah satu penyebabnya adalah perubahan rencana perjalanan Paulus yang membuatnya batal mengunjungi Korintus (2 Kor. 1:12-2:4). Pembatalan kunjungan Paulus ini membuat mereka menyimpulkan bahwa Paulus ingkar janji, tidak tulus, ceroboh, dan tidak peduli terhadap mereka. Paulus ingin memperbaiki hubungan yang sudah diwarnai dengan kecurigaan ini.

Ay. 1-2        Sebagai apakah Paulus menempatkan dirinya di hadapan jemaat Korintus? (lihat juga 2 Kor. 5:20-21). Apa tujuan Paulus menegaskan hal ini?

Ay. 11-13   Apa arti himbauan Paulus, “Bukalah hati kamu selebar-lebarnya”? Hubungan seperti apakah yang diharapkan Paulus dengan orang-orang Korintus? Mengapa Paulus merasa sangat perlu memperbaiki hubungan pribadinya dengan orang-orang Korintus?

Paulus menempatkan dirinya sebagai seorang yang secara khusus diutus Allah kepada orang-orang Korintus. Dengan demikian, Paulus menegaskan bahwa ia tidak melakukan semua ini demi kepentingan pribadinya. Tujuan Paulus hanya satu, yaitu supaya orang-orang Korintus tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah mereka terima. Kasih karunia itu akan menjadi sia-sia bila mereka hidup untuk diri sendiri (5:15) atau bila mereka menolak Paulus yang telah membawa Injil kasih karunia kepada mereka (V.C. Pfitzner,  Kekuatan dalam Kelemahan – Tafsiran atas Surat 2 Korintus).

Karena itulah Paulus meminta agar mereka membuka hati mereka selebar-lebarnya. Artinya, supaya mereka menerima Paulus dengan tulus. Paulus mengharapkan hubungan yang seakrab-akrabnya dengan orang-orang Korintus (lihat juga 2 Kor. 7:2-3). Paulus berharap orang-orang Korintus tidak terus-menerus sedih dan kecewa karena kesalah-pahaman yang telah terjadi di antara mereka.

REFLEKSI
Jika terjadi kesalahpahaman orang-orang yang Anda layani atau dengan rekan sepelayanan Anda, hal apakah yang Anda lakukan? Menurut Anda, siapakah yang seharusnya lebih dahulu berinisiatif dan berupaya untuk memperbaiki hubungan yang retak tersebut?

TEKADKU
Tuhan, Berikanlah aku keberanian dan ketulusan untuk lebih dahulu mengambil inisiatif memperbaiki hubunganku dengan orang-orang yang aku layani dan orang-orang yang menjadi rekan sepelayananku.

TINDAKANKU
Aku akan mendoakan rekan-rekan sepelayananku, khususnya mereka yang pernah mempunyai perbedaan pendapat dan masalah lainnya denganku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«