suplemenGKI.com

BADAI PASTI BERLALU

Kejadian 9:8-17

 

Pengantar
Di alam ini tidak hanya ada satu musim. Di Indonesia kita mengenal dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau.  Manakah yang lebih Saudara sukai, musim hujan ataukah musim kemarau? Apakah Saudara pernah mengeluh bila dalam satu musim yang berkepanjangan muncul persoalan yang merisaukan? Atau sebaliknya, apakah Saudara selalu memiliki pengharapan di tengah satu musim dan bencana yang berkepanjangan? Marilah kita merenungkan.

Pemahaman

  • Ayat 9-11    : Mengapa Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh dan keturunannya?
  • Ayat 12-17  : Apa tanda perjanjian yang dibuat Tuhan? Apakah makna tanda perjanjian itu?

Nuh merupakan seorang tokoh yang hidup benar, tidak bercela, dan bergaul dengan Allah, serta melakukan apa yang Allah perintahkan baginya (Kej. 6:9, 22; 7:5,16). Ketaatan dan disiplin hidup Nuh berbeda daripada kehidupan masyarakat pada zamannya. Manusia lainnya hidup dalam kendali hawa nafsu dan kekerasan terhadap satu sama lain sehingga bumi telah menjadi rusak ( Kej.  6:11-12, 22). Maka pada saat itulah murka Tuhan terjadi hingga memusnahkan manusia bersama-sama dengan bumi (Kej 6:13). Namun, hanya Nuh yang dipandang Tuhan sebagai orang benar (Kej.7:1).

Dalam terang konteks hidup Nabi Nuh, teks Kejadian 9:8-17 merupakan bagian utuh dari perikop Kejadian 9:1-17 mengenai Perjanjian Allah yang menyelamatkan. Perjanjian itu diwujudkan oleh Allah bersama Nuh. Perjanjian Allah tersebut meliputi tiga aspek penyelamatan, yakni:

1)      Perjanjian Allah dengan Nuh dan anak-anaknya (Kej. 9:1-7).

2)      Perjanjian Allah dengan keturunan Nuh dan segala makhluk hidup (Kej. 9:8-11).

3)      Tanda Perjanjian Allah kepada Nuh, anak-anak, keturunan, dan makhluk hidup di bumi (Kej. 9:12-17).

Tanda itu tampak melalui busur Allah di awan supaya makhluk di bumi tidak tertimpa celaka yang serupa.

Pesan yang hendak disampaikan oleh perikop ini adalah perkenan atau izin Allah terhadap bencana yang terjadi di dunia karena kerusakan hidup manusia. Namun Tuhan tidak membiarkan bencana menghancurkan seluruh kehidupan di alam semesta. Tak selamanya penderitaan berkuasa sebab Allah selalu bertindak peduli terhadap kehidupan ciptaan-Nya.  Oleh karenanya mari terus percaya pada Allah, Sang Penguasa dan Penyelamat kehidupan. Jangan pernah ragukan kasih sayang-Nya walau hidup kita sedang dilanda badai kehidupan yang tak kunjung reda. Percayalah badai pasti berlalu.  Habis hujan tampak pelangi indah lambang kasih Tuhan. Maka Jangan hanya berfokus pada penderitaan dan bencana yang mendera. Ingatlah Perjanjian Allah tidak hanya terhadap Nuh, anak-anaknya, keturunannya, dan segenap makhluk hidup (Kej. 9:9, 10), melainkan juga bagi umat Allah di masa kini yang berpegang dan berpengharapan pada janji Allah. 

Refleksi:
Dalam keheningan, marilah kita merenungkan, apakah di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, Saudara masih terus semangat beriman dan berpengharapan pada Allah ataukah lebih dikuasai kecemasan dan keputusasaan? Apakah Saudara yakin akan karya baik Allah di tengah pandemi ini ?

Tekadku
Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk terus mengarahkan iman dan pengharapan kepadamu. Mampukanlah aku untuk terus percaya pada kasih dan kebaikan serta janji Firman-Mu hingga aku tak mudah dikuasai kecemasan dan keputusasaan dalam menghadapi pelbagai bencana kehidupan.

Tindakanku

  • Hari ini aku akan mengendalikan kecemasan dan ketakutanku dengan terus berdoa dan mengingat janji Firman Tuhan.
  • Aku akan belajar mensyukuri setiap musim kehidupan karena Tuhan berkarya di dalamnya.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«