suplemenGKI.com

Kala Tak Berdaya

Mazmur 71:9-16

Pengantar

Melanjutkan perenungan kemarin, hari ini kita akan belajar kembali tentang bagaimana sikap hidup orang yang percaya kepada Allah tatkala merasa tiada berdaya.

Pemahaman

Ayat 9 –11        : Apakah yang menjadi tantangan hidup Pemazmur?

Ayat 12 – 13    : Hal apakah yang menjadi ketakutan Pemazmur tatkala menghadapi tantangan hidup itu?

Ayat 14 – 16    : Apakah yang menjadi tekad Pemazmur dalam menghadapi tantangan hidup tersebut?

Berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya, di ayat 9 ini Pemazmur menyinggung soal masa tua. Ada banyak contoh di mana orang yang sudah tua diterlantarkan, karena kekuatan mereka sudah memudar. Bahkan pada masa kini banyak anak-anak yang menempatkan orang tuanya di panti usiawan karena beranggapan kondisi orang tua mereka yang sudah kehilangan kekuatannya itu jadi merepotkan. Dalam kondisi sudah kehilangan kekuatannya itu Pemazmur menghadapi musuh-musuhnya yang mengincar nyawanya. Di sini tergambar Pemazmur menghadapi dua tantangan sekaligus. Tantangan dari dalam adalah kekuatannya yang sudah memudar, sedangkan tantangan dari luar adalah adanya persekongkolan beberapa pihak yang hendak menghancurkan Pemazmur.

Akan tetapi ada hal yang lebih menakutkan bagi Pemazmur daripada tergencet tantangan dari dalam dan luar itu, yakni berada jauh dari Tuhan. “Ya Allah, janganlah jauh dari padaku!…” (ay. 12). Sekalipun orang sekitarnya berpendapat bahwa Pemazmur telah ditinggalkan Allah (ay. 11), tapi Pemazmur tetap percaya bahwa Allah tidak meninggalkan dia. Karena itulah Pemazmur tetap berseru kepada Allah. Tentu saja para musuh Pemazmur itu memiliki data yang seakan membuktikan bahwa Pemazmur telah ditinggalkan Allah. Namun semuanya itu tetap tidak menggoyahkan iman Pemazmur kepada Allah. Bahkan Pemazmur yakin bahwa para musuhnya itu akan malu karena perkataan mereka tidak terbukti. “Biarlah mendapat malu dan menjadi habis orang-orang yang memusuhi jiwaku; biarlah berselubungkan cela dan noda orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku!” (ay. 13).

Sebagai wujud keyakinannya tersebut, maka Pemazmur bertekad untuk tetap berharap kepada Allah serta meningkatkan puji-pujiannya kepada Allah (ay. 14-15). Dan pada akhirnya, Pemazmur akan mengalami kemenangan. “Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja!” (ay. 16).

Refleksi

Seringkali iman kita menjadi goyah tatkala menghadapi tantangan dan pergumulan dalam realita kehidupan ini. Apalagi kalau ada pihak-pihak tertentu yang memprovokasi kita untuk beranggapan bahwa Tuhan tidak lagi sayang kepada kita, Tuhan telah mengabaikan kita, bahkan meninggalkan kita. Dapatkah kita tetap mempercayakan diri kepada Allah serta berharap kepadaNya seperti yang diteladankan Pemazmur?

Tekad

Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk tetap mempercayai-Mu dalam segala keadaan. Amin.

Tindakan

Saya akan mempercayakan diri saya sepenuhnya kepada Allah dalam segala situasi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«