suplemenGKI.com

Kamis, 17 Juni 2010

16/06/2010

Galatia 3:23-29

Kita Dibenarkan Karena Iman

Salah satu sikap manusia yang paling sulit diubah adalah “Fanatik” yaitu suatu sikap yang mengidolakan, mengagungkan atau mempertahankan suatu prinsip dengan tidak terbuka terhadap keperbedaan dengan pihak lain atau orang lain. Seakan-akan dia yang paling benar dan orang lain selalu salah. Fanatik bisa terhadap ketokohan seseorang, terhadap ideologi/paham, terhadap makanan kesukaan atau banyak lagi yang lain. Fanatik sebenarnya tidak membawa nilai yang signifikant terhadap norma kehidupan, karena fanatik cenderung membentuk sikap yang arogan dan tidak terbuka terhadap pihak lain.

Konteks surat Galatia ini, terkait dengan usaha Rasul Paulus melawan para pengajar palsu yang menanamkan pentingnya sunat dan hukum taurat. Dalam pasal 3 ini Paulus secara khusus ingin memberikan pemahaman bahwa pengalaman spiritual yang berpadanan dengan Kitab Suci adalah pemahaman iman yang mendasar dan penting. Sehingga Paulus menegaskan bahwa hidup dari iman kepada Allah itulah yang menjadikan seseorang memiliki status sebagai anak-anak Allah (ay. 7) sedangkan taurat adalah menekankan pada kemampuan perbuatan dan usaha manusia.

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Apa yang ingin dinyatakan oleh Paulus dengan pernyataanya dalam ayat. 23-26!
  2. Apa tujuan Paulus dengan pernyataan lanjutanya dalam ayat 26-29?

Renungan:

Ada tiga hal yang Paulus sampaikan dalam paparanya untuk menuju pernyataan iman kepada Kristus. Pertama: Paulus menjelaskan tentang janji Allah bahwa Abraham akan menjadi berkat (ay. 6-8) Hal itu bertentangan dengan para pengajar palsu, yang berpandangan sunat jasmani adalah syarat untuk tergabung menjadi anak-anak Abraham (anak-2 perjanjian) Kedua: Paulus menegaskan bahwa hidup dari imanlah yang membuat setiap orang percaya menjadi anak-anak keturunan Abraham (anak-anak Allah) Ketiga: Paulus menegaskan bahwa dasar hukum taurat bukan lah iman tetapi usaha dan perbuatan. Dengan demikian Paulus melawan pemahaman menjadi anak-anak Allah karena perbuatan (melakukan taurat)

Namun demikian Paulus tetap menunjukan apresiasinya terhadap taurat, yang walaupun tidak menyelamatkan tetapi berfungsi sebagai penuntun bagi umat manusia sebelum Kristus datang. Kemudian dengan hadirnya Kristus maka pusat iman kita adalah kepada Kristus yang adalah penggenapan taurat.

Sebagai puncak dari pengajaran bahwa iman kepada Kristus adalah yang membuat kita menjadi anak-anak Allah, itu berlaku bagi semua orang yang percaya kepada Kristus, baik mereka yang bersunat jasmani atau tidak bersunat jasmani. Paham demikian bertujuan untuk mengubah sikap fanatik orang-orang yang terpengaruh dengan pengajar-pengajar palsu yang sangat menekankan sunat jasmani. Dan mendobrak sikap superior bangsa Yahudi yang memandang rendah orang non Yahudi saat itu. Seakan-akan identitas ditentukan berdasarkan superior dan fanatik.

Identitas di dalam Kristus tidak tergantung dari seseorang lahir dari keluarga Kristen, tidak tergantung dari orang yang sudah dibaptis atau belum. Tidak ditentukan dari seseorang berstatus hamba Tuhan atau bukan. Tetapi ditentukan oleh karena dia dibenarkan melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Hal terpenting adalah  seseorang yang beriman kepada Kristus harus menghasilkan buah dari imanya kepada Kristus dalam hidup yang telah dibenarkan oleh karena iman.

Iman yang benar adalah percaya kepada Kristus, iman yang hidup adalah berbuah bagi Krisus dan iman yang bertumbuh adalah mengerti bahwa kita sudah tergolong anak-anak Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«