suplemenGKI.com

Memberikan persembahan – kehendak Allahkah?

Ibrani 10:5-7

 

Pengantar

Bagian Surat ini mengutip Mazmur 40:6-8. Dalam Mazmur itu, syair-syair ini merupakan bagian dari nyanyian ungkapan hati seseorang. Si pemazmur menyadari ketika berada dalam kesusahan yang berat, Tuhan menjadi penolong dan pelindungnya yang mahakuasa, dan Dia tidak menghendaki berbagai bentuk persembahan selain dirinya, yakni semakin peka mendengar dan selalu memperhatikan kehendak-Nya. Dalam Surat Ibrani ayat-ayat ini merupakan bagian dari pernyataan Kristus, dan ini merupakan akibat dari apa yang disebutkan di ayat-ayat sebelumnya. Pernyataan ini menyoroti berbagai bentuk korban persembahan yang ternyata tidak dikehendaki Tuhan, dan itu dibandingkan dengan apa yang dilakukan Kristus.

 

Pemahaman

Ay. 5-7  : Siapakah yang mempersembahkan korban? Apakah korban persembahan itu masih berguna?

Bagi orang Yahudi jabatan keimaman sangatlah bergengsi. Surat Ibrani datang kepada mereka dengan mengatakan bahwa ternyata fungsi yang dipikul jabatan itu sesungguhnya tidak cukup berguna, karena keadaan yang seharusnya diubah oleh fungsi itu tidak terjadi. Fungsi imam sebagai perantara manusia dengan Allah dan sebagai wakil Allah di antara manusia tidak membawa hasil yang diharapkan. Persembahan untuk menghapus dosa masih terus diberikan, yang menandakan bahwa umat Allah, termasuk para imam Bait Allah, masih juga tidak bisa lepas dari dosa. Berbagai bentuk persembahan, berupa binatang atau pun harta dan benda lainnya juga diberikan umat dan para imam untuk membuat Tuhan senang kepada mereka. Namun Tuhan ternyata tidak menghendaki semua itu. Apa yang dilakukan para imamNya belum memenuhi kehendak Tuhan. Mereka semua tetap saja terikat pada dosanya masing-masing. Namun Kristus datang ke tengah umat-Nya dan Dia datang untuk melakukan kehendak Allah.

 

Refleksi

Seringkali, waktu kita menganggap telah mengerjakan semua yang harus dikerjakan sebagai anggota jemaat atau pun sebagai pejabat gerejawi, seperti memberikan banyak persembahan yang dianggap baik, kita menganggap Tuhan pasti senang. Kita puas dan merasa sudah berbuat semua yang benar. Ayat-ayat ini menyadarkan bahwa semua persembahan dan perbuatan itu ternyata (mungkin) belum melaksanakan kehendak Allah. Malah mungkin kita membuat persembahan hanya untuk memenuhi apa yang “seharusnya”, untuk memenuhi hasrat kita. Namun yang terpenting adalah mempersembahkan apa yang Tuhan kehendaki, dan bukanlah banyaknya persembahan.

 

Tekad

Doa: Tuhan, tolong saya untuk mempersembahkan apa yang Tuhan kehendaki. Amin.

 

Tindakan

Saya akan mengenali kehendak Tuhan dan mempersembahkan apa yang menyenangkan bagi-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«