suplemenGKI.com

Mazmur 90:9-12

Kualitas, bukan Kuantitas

 

Pengantar
Jika disuruh memilih, manakah yang anda pilih? Membeli makanan yang tidak terlalu enak tapi jumlahnya banyak, atau makanan yang benar-benar nikmat namun porsinya sedikit? Sebagian orang mungkin akan mengutamakan kuantitas. Yang penting porsinya banyak, walau rasanya tidak terlalu enak. Namun tidak sedikit juga yang lebih mengutamakan kualitas makanannya. Walau porsi sedikit, tapi yang penting rasanya benar-benar enak. Lalu bagaimana dengan hidup yang kita jalani hari ini? Apakah kita mengutamakan kuantitas hidup (usia yang panjang), namun mengabaikan kualitasnya? Atau sebaliknya?

Pemahaman

Ayat 9-10        : Bagaimanakah pemazmur menggambarkan hari-hari hidup manusia?

Ayat 11-12      : Apa yang diminta oleh pemazmur agar ia dapat memperoleh hati yang bijaksana?
Bagaimana anda menghabiskan hari-hari kehidupan anda?

Hidup manusia bersifat sementara, namun dipenuhi keluh oleh karena amarah Tuhan (ay. 9). Amarah Tuhan yang datang karena kesalahan manusia sendiri (ay. 8). Pemazmur menuliskan bahwa hidup manusia hanya tujuh puluh tahun, jika kuat delapan puluh tahun. Namun tahun-tahun itu berlalu dengan cepat. Sehingga yang diingat ialah kesukaran dan penderitaan (ay. 10). Pemazmur ingin menyampaikan bahwa bukan soal kuantitas hidup kita, yaitu jumlah usia yang kita miliki, tetapi semuanya mengenai kualitas hidup kita. Usia yang panjang sekalipun menjadi murka Allah yang begitu besar. Tidak ada seorang pun yang dapat memahaminya.

Ayat 12 menjadi permohonan pemazmur mengenai hari-hari hidupnya. Pemazmur paham betul bahwa walau ia bisa hidup dalam tahun-tahun yang banyak, namun jika ia hanya hidup dalam murka Allah, maka tidak ada gunanya. Bukan soal kuantitas hidupnya, namun soal kualitas hidupnya. Kualitas hidup yang pemazmur inginkan ialah sebuah hati yang bijaksana. Menghitung hari berarti bahwa kita dapat memaknai singkatnya waktu yang Allah berikan sesungguhnya. Sebab 70-80 tahun sesungguhnya adalah waktu yang singkat jika dibandingkan dengan kekekalan. Pemazmur mau belajar menghitung hari untuk mengerti singkatnya kehidupan yang ia jalani. Menyadari kefanaan hidup di dunia membawa kita untuk hidup dekat dengan Allah sebagai langkah awal datangnya hikmat (Ams. 1:7). 

Refleksi
Mari merenungkan: bagaimana saya memaknai hari-hari hidup yang Tuhan anugerahkan untuk saya? Apakah itu membawa saya lebih dekat pada-Nya atau tidak? 

Tekadku
Tuhan, tolonglah agar aku mampu memaknai dengan benar kehidupan yang Engkau berikan. Sehingga aku hidup dekat dengan-Mu saja.

Tindakanku
Aku mau meningkatkan kualitas hidup kerohanianku selama aku masih hidup di bumi. Aku mau terus merenungkan kebaikan Tuhan, sehingga selalu bersyukur untuk hari yang Ia berikan untukku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*