suplemenGKI.com

Kamis, 16 April 2015

15/04/2015

Karena Kasih, Ia Menerima kita sebagai Anak-Nya

1 Yohanes 3:1-7

Pengantar

Macam kehidupan bagaimanakah yang dapat kita bayangkan dari kehidupan seorang anak raja? Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kehidupan seorang anak raja? Pada hari ini kita akan merenungkan tentang kehidupan sebagai seorang anak Allah, Sang Raja di atas segala raja itu.

Pemahaman

Ayat 1   : Pernahkah Saudara merasakan kasih Allah? Seberapa besar kasih Allah atas Saudara? Mengapa demikian? Seberapa besar pula kasih Allah yang digambarkan oleh rasul Yohanes?

Ayat 2   : Apakah status “menjadi anak Allah” membuat kehidupan berbeda dengan bila tidak memiliki status tersebut? Mengapa demikian?

Kata seru “Lihatlah” yang digunakan rasul Yohanes ketika meminta orang Kristen untuk memperhatikan apa yang akan disampaikan, dalam bahasa aslinya (Yunani) memakai istilah “oida”. Pengertian istilah ini bukanlah melihat secara sekilas saja, sama seperti kalau kita melihat ada kereta api lewat, tetapi melihat dalam pengertian memberi perhatian sehingga menimbulkan pemahaman.

Rasul Yohanes ingin orang Kristen memperhatikan dengan seksama tentang betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Alkisah ada seorang Kristen yang bertanya kepada Kristus,

“Tuhan, seberapa besar kasih-Mu kepadaku?”

“Sebesar ini……” Jawab Kristus sambil merentangkan kedua tangan-Nya, lalu mati di atas kayu salib.

Kasih Allah kepada manusia bukanlah sekadar kasih yang diucapkan semata, tetapi kasih yang juga dibuktikan secara nyata. Kasih Allah bukanlah kasih yang sekadar dijanjikan, tetapi kasih yang juga dikaruniakan, sehingga kita disebut anak-anak Allah. untuk memahami kedahsyatan kasih Allah ini, mari kita membayangkan si M yang bermusuhan dengan si A, namun kemudian si A dengan tulus dan sepenuh hati menerima si M menjadi anaknya. Bukan karena si M telah berubah menjadi baik, tetapi semata-mata karena si A memang mau mengangkat si M menjadi anaknya. Tindakan si A untuk menerima si M menjadi anaknya adalah tindakan yang membutuhkan kebesaran hati sungguh teramat sangat luar biasa besarnya. Dan itulah gambaran kebesaran kasih Allah yang dikaruniakan kepada orang percaya. Allah mengubah status orang berdosa, dari seteru menjadi anak. Hal itu bukan karena manusia sudah berubah menjadi baik, tetapi justru sebaliknya. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan cara mati untuk kita, bukan ketika kita sudah hidup benar, bukan pula ketika kita sudah memiliki itikad untuk berubah, tetapi ketika kita masih berdosa (Ro. 5:8).

Refleksi

Marilah kita berdiam diri sejenak, untuk membayangkan tangan Allah yang sedang terulur memeluk kita. rasakan kehangatan pelukan kasih Allah itu.

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, terimakasih karena Engkau sudah mengubah status saya, dari seorang musuh, menjadi seorang anak. Amin.

Tindakan

Untuk menghayati kasih Allah, saya akan berdoa untuk seseorang yang telah menyakiti hati saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*