suplemenGKI.com

Roma 13:8-14

 

Hutang Kasih

 

Dalam ayat 1-7, rasul Paulus berbicara tentang “hutang” orang Kristen terhadap pemerintah (perhatikan kata “apa yang harus kamu bayar”, ay. 7). Kini rasul Paulus membicarakan “hutang” orang Kristen secara umum.

-  Apakah Saudara pernah berhutang? Bagaimana perasaan Saudara ketika memiliki hutang?

-  Mengapa dalam ayat 8 rasul Paulus menghubungkan “berhutang” dengan “saling mengasihi”?

Renungan
Sebagian orang melihat ada bagian yang kurang jelas dalam ayat 8 ini, yaitu “berhutang” dengan “saling mengasihi”. Mengapa rasul Paulus menghubungkan “hutang” dengan “saling mengasihi”?. Hubungan keduanya lebih nampak jelas dalam Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari, yang berbunyi demikian, “Janganlah berutang apa pun kepada siapa juga, kecuali berutang kasih terhadap satu sama lain. Sebab orang yang mengasihi sesama manusia, sudah memenuhi semua hukum Musa.” Melalui pernyataan ini sebenarnya rasul Paulus mengingatkan kita bahwa setiap orang Kristen memiliki hutang kasih. Hutang ini bukan hanya kepada sesama orang Kristen, melainkan kepada siapa pun. Sebab larangan berhutang dalam frasa pertamanya ditujukan kepada siapa pun. Karena hutang itu harus dibayar, maka dapat dikatakan bahwa mengasihi itu merupakan kewajiban. Ini berarti adalah wajib hukumnya bagi seorang kristen untuk mengasihi sesamanya, sebab ia berhutang kasih. Perlunya kita mengasihi sesama ini dilandaskan Paulus pada sebuah argumen yaitu bahwa dengan mengasihi sesamanya kita telah memenuhi tuntutan hukum Taurat.

Pemenuhan hutang kasih itu sendiri seharusnya berlandaskan hati yang penuh dengan kasih. Hal ini dimungkinkan ketika kita menyadari bahwa kasih Allah telah dilimpahkan begitu luar biasa kepada kita. Bila kita tidak memiliki kesadaran ini, atau bila kesadaran akan kasih Allah yang melimpah itu hanya ada di dalam tataran pikiran atau konsep belaka, maka tindakan pemenuhan hutang itu akan penuh dengan motivasi yang salah, misalnya takut terkena sanksi. Tentu kita akan heran bila melihat orang membayar hutangnya dengan wajah yang kesal, bukan? Demikian pula bila Allah melihat kita melakukan tindakan kasih tapi dengan hati yang terpaksa.

Desakan rasul Paulus agar orang percaya memenuhi hutang ini dipertegas di dalam ayat berikutnya, di mana dia berkata, “Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya” (ay. 11). Istilah yang diterjemahkan “waktu sekarang” di sini adalah kairos, yang merujuk adanya kesempatan. Ini adalah kesempatan untuk bangun dari tidur. Kata “tidur” di sini dapat kita lawankan dengan peringatan Tuhan Yesus agar kita selalu berjaga-jaga (Mat. 24:42; 25:13). Dengan kata lain, Paulus mengajak kita untuk menyadari bahwa dalam rangka menyambut kedatangan Kristus, kita harus sesegera mungkin membayar hutang kita, yaitu mengasihi sesama.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

2 Comments for this entry

  • adel says:

    renungan ini gak bisa di copas ya? mau aku taruh blog soalnya :)

  • admin says:

    Bisa di copas. Setelah di blok, copy dengan Ctrl+C dan paste dengan Ctrl+V (Right click tidak bisa)
    Jangan lupa mencanumkan sumbernya.
    Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«