suplemenGKI.com

Kamis, 15 Juni 2017

14/06/2017

Mazmur 100

 

Sukacita Menjadi Milik Allah

Pengantar:
Setiap anak akan sangat bersukacita jika mempunyai orangtua yang membanggakan, yang menyenangkan dan yang mengasihinya. Misalnya: orangtuanya adalah orangtua yang bertanggungjawab terhadap keluarga, mengasihi dan menyayangi semua anggota keluarga, reputasi di masyarakat sangat membanggakan dan dapat diandalkan. Terlebih jika orangtua itu menjadi teladan bagi anggota keluarga, terutama teladan dalam hidup spiritualitasnya. Pasti sukacita dan bangga mempunyai orangtua yang demikian. Tetapi sangat disayangkan bahwa tidak sedikit orangtua-orangtua Kristen tetapi malah menjadi batu sandungan bagi anak-anak dan keluarganya. Hari ini kita menikmati sukacita Umat Allah yang diungkapkan oleh pemazmur karena memiliki Allah yang dapat dibanggakan.

Pemahaman:

  1. Apa yang melatar belakangi seruan dan ajakan pemazmur untuk memuji-muji Allah?
  2. Bagaimana wujud konkrit ajakan pemazmur dalam memuji-muji Tuhan?

Mazmur 100 ini tidak terlepas dari mazmur sebelumnya yaitu Mazmur 99. Pada Mazmur 99, pemazmur mengakui akan keberadaan Allah, yang digambarkannya sebagai: Tuhan adalah Raja, maha besar, Raja yang kuat, penuh keadilan, mencintai dan menegakkan kebenaran, pemelihara umat, segala perbuatan-Nya dahsyat dan menjawab seruan umat-Nya. Atas Allah yang demikianlah pemazmur mengajak seluruh umat bahkan seluruh bumi untuk bersorak-sorak dan memuji-muji Tuhan. Pemazmur dengan cukup jelas mengajak seluruh bumi untuk memuji-muji Allah dengan wujud yang konkrit, yaitu dengan: beribadah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai, artinya ketika beribadah kepada Tuhan tidak dengan terpaksa, tidak dengan beban berat atau rasa takut, cemas. Bagi pemazmur beribadah kepada Tuhan harus dengan hati yang senang, jiwa yang lapang dan keterlibatan yang membahagiakan, karena Allah yang disembah adalah Allah yang menjadikan seluruh alam semesta termasuk umat-Nya. Kalimat “masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, artinya beribadah itu jangan dihantui perasaan takut, cemas dan gelisah. Itu sebabnya ketika beribadah kepada Tuhan kita harus terbuka, jujur dan rendah hati, karena dengan demikian kita tidak selimuti oleh kemunafikan, merasa paling benar dan paling layak, sebab justru Allah akan membuka pintu pengampunan kepada kita ketika kita datang beribadah dengan kejujuran, ketulusan, kerendahan hati dan tidak munafik.

Refleksi:
Pernahkah saudara merenungkan, siapa kita di hadapan Allah? Kita adalah orang berdosa, Allah adalah Raja segala raja, maka sepatutnya kita bersukacita menjadi milik Allah, sukacita itu kita wujudkan melalui beribadah dengan sikap yang benar seperti ajakan pemazmur ini.

Tekadku:
Tuhan, ampuni aku jikalau selama ini aku belum menghayati siapa diriku di hadapan-Mu, sehingga belum memiliki sikap yang jujur, rendah hati ketika beribadah kepada-Mu.

Tindakkanku:
Selalu berjuang membawa hidup yang tulus, jujur dan rendah hati dalam beribadah kepada Tuhan, dengan demikian aku pasti akan mengalami sukacita menjadi milik Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«