suplemenGKI.com

Jalan Orang Fasik Menuju Kehancuran

 

Bacaan : Ayub 21:1-34

 

Pengantar
Tanpa kita sadari sering kali kita hanya melihat kebaikan dan keberhasilan dari segi fisiknya saja, misalnya orang sehat, kuat, kaya, banyak temannya, pandai itu kita anggap sebagai orang yang berhasil. Sedangkan orang yang hidupnya tidak mewah, sedikit temannya, kurang pandai, kurus dianggap sebagai orang yang tidak berhasil. Benarkah bahwa keberhasilan seseorang hanya dilihat dari fisiknya saja? Bagaimana kita memahami Ayub untuk hal ini?

Pemahaman
Ay 1-6, Apa yang diungkapkan Ayub tentang keadaannya?
Ay 7-15, Apa pendapat Ayub tentang orang-orang fasik?
Ay 16-21, Bagaimana keadaan orang fasik dihadapan Tuhan?
Ay 22 – 26, Bagaimana kesudahan orang fasik?
Ay 27 -34, Apa reaksi Ayub terhadap orang-orang fasik?

Ayub menyadari bahwa dirinya didalam keadaan dan kondisi yang tidak baik, secara fisik menderita, secara materi kurang, secara sosial masyarakat ia menjadi orang yang dipojokkan atau dipinggirkan. Disisi lain Ayub juga dikenal sebagai orang yang rohani, namun kesakitannya membuat masyarakat bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi pada Ayub?

Pada umumnya masyarakat menilai bahwa penderitaan Ayub dikaitkan dengan dosa yang diperbuat Ayub. Ini yang membuat Ayub sedih dan sulit untuk menerangkan apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Ayub juga menyadari bahwa banyak juga orang fasik (orang yang tidak mengenal Tuhan) yang kelihatanya hidupnya berhasil, ini terlihat dari umurnya panjang, beranak-cucu, bertambah kaya, bersuka-cita dan teman-temannya banyak. Bahkan dari antara mereka berani berterus terang menolak Tuhan yang Mahakuasa.

Ayub juga percaya bahwa Tuhan tidak pernah tinggal diam terhadap orang-orang fasik, bahkan mereka seperti jerami di depan angin, seperti sekam diterbangkan badai. Orang-orang fasik tidak pernah terluput dari hukuman murka Tuhan. Mereka semua akan menuju kehancuran yang kekal, karena mereka menolak Tuhan yang telah menjadikan mereka.

Ayub menyadari bahwa seringkali orang menilai seseorang dari penampilan fisiknya saja, Ayub tidak marah dengan mereka yang salah menilai dirinya, namun Ayub semakin kuat imannya bahwa dalam penderitaannya ia tetap beriman kepada Tuhan yang Mahakuasa serta tidak menyangkali keberadaan Tuhan dalam hidupnya.

Refleksi
Ambil beberapa menit untuk merenungkan, apakah saya iri dengan orang-orang fasik yang hidupnya kelihatanya berhasil? Apakah saya tetap bangga dengan Tuhan walaupun hidupku “tidak sukses”?

Tekadku
Ya Tuhan Yesus, ajarkanku untuk senantiasa mengucap syukur untuk iman yang telah Engkau berikan kepadaku sehingga sampai hari ini aku tetap setia padaMu. Jangan biarkan aku iri dengan keberhasilan orang-orang fasik.

Tindakanku
Mengucap syukur untuk apa yang telah Tuhan berikan kepadaku dan mendoakan orang yang belum mengenal Tuhan (orang yang dekat dengan saya).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«