suplemenGKI.com

Roma 11:1-7

KASIH KARUNIA = BUKAN BERDASARKAN KEBAIKAN

 

Pengantar
Pernahkah kita menerima atau memberi hadiah?  Pasti pernah!  Ketika kita menerima hadiah, tentu kita tidak mengeluarkan biaya untuk menerima ‘sesuatu’ itu alias gratis.  Prinsip hadiah adalah tanpa pamrih bukan berdasarkan ‘kebaikan’ sang penerima hadiah.  Jika berdasarkan ‘kebaikan’ sang penerima itu bukan hadiah tetapi ‘imbalan’.  Imbalan berbeda dengan hadiah.  Imbalan biasanya layak kita terima sebab kita sudah melakukan sesuatu yang baik.  Tetapi prinsip hadiah sama dengan kasih karunia, seharusnya kita tidak layak (tidak pantas) menerimanya.  Siapa yang tidak senang saat menerima hadiah?

 

Pemahaman
Ayat 1: Mengapa Paulus memberikan teladan dari dirinya sendiri saat berbicara kasih karunia Allah?

Ayat 2-7: Bagaimana Allah memberikan kasih karunia-Nya bagi Israel?

Apakah kita masih memiliki kesadaran akan kasih karunia Allah dalam hidup kita?

Pada jaman itu, sebagai pemberita Injil dan pendiri jemaat, siapa yang tidak kenal dengan rasul Paulus dan latarbelakang hidupnya?  Sebagian besar jemaat pasti tahu!  Dia orang Yahudi tulen yang awalnya menghalangi pemberitaan Injil bahkan pembunuh pengikut Kristus.  Tetapi kemudian, Dia dipanggil dan dijadikan-Nya sang pemberita Injil dan pendiri jemaat.  Menurut pandangan manusia, bahkan menurut pandangan Paulus sendiri, sebenarnya dia tidak layak (tidak pantas) menjadi pemberita Injil.  Tetapi itulah kasih karunia Allah bagi diri Paulus.  Hal itu sepenuhnya disadari Paulus.  Oleh sebab itu, ketika dia berbicara kepada orang-orang Yahudi saat itu tentang pilihan Allah, tentang kasih karunia Allah, dia menunjukkan kasih karunia Allah terhadap dirinya (ayat1).  Bahkan Paulus menyadari, di saat dirinya belum melakukan kebaikan apapun, di saat dirinya masih melakukan apa yang jahat, Dia telah memanggil dan memilihnya menjadi pengikut dan pelayan-Nya.

Apa yang Tuhan lakukan terhadap Paulus, itu pulalah yang juga telah Dia lakukan atas Israel.  Meskipun mayoritas Israel menegarkan hati, ada sebagian kecil yang menerima kasih karunia Allah.  Mereka di sebut “sisa Israel”.  Israel dipilih hanya oleh kasih karunia Allah saja, bukan karena kebaikan mereka.  Demikian juga sisa Israel, juga dipilih hanya oleh kasih karunia Allah (ayat 5).  Paulus memberikan contoh tentang 7000 orang yang setia pada zaman Elia (ayat 4).  Baik sisa pada zaman Elia, maupun sisa pada zaman Paulus sungguh-sungguh menghayati makna pemilihan Allah.  Rasa syukur mereka terbukti nyata dalam kesetiaan dan keteguhan prinsip sehingga tidak ikut-ikutan yang mayoritas saat itu, khususnya di Roma.  Sedikit tetapi berkualitas dan membuktikan keputusan pemilihan Allah yang tidak pernah keliru bagi umat-Nya.

 

Refleksi
Seperti Israel maka hidup dan apapun yang kita alami dalam hidup adalah karena kasih karunia-Nya.  Termasuk kesempatan yang masih ada untuk menjadi murid-Nya yang lebih baik adalah kasih karunia-Nya.

 

Tekadku
Tidak menganggap enteng kasih karunia-Nya.  Selalu berusaha dan belajar menghargai kasih karunia Allah dalam hidup melalui perubahan hidup yang nyata.

 

Tindakanku
Aku mau berubah dalam hal …………….. sebagai ungkapan syukur, ungkapan kesetiaan dan kerendahan hatiku dalam meresponi kasih karunia Allah.

Perubahan hidup yang nyata adalah wujud penghayatan dan kerendahan hati akan kasih karunia Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«