suplemenGKI.com

Bacaan : Yakobus 3 : 5b – 8.

KUASA UNTUK MENYESATKAN, MERUSAK DAN MEMBUNUH.

Pertanyaan Penuntun :

  1. Dengan apa Rasul Yakobus menggambarkan kekuatan lidah/perkataan ? Mengapa demikian ?
  2. Apa persamaan lidah yang digambarkan dengan api dan binatang buas ?
  3. Pesan apa yang kita peroleh dari bacaan ini ?

RENUNGAN

Kemarin kita merenungkan kekuatan lidah/perkataan yang digambarkan seperti kuda liar yang harus dijinakkan dengan kekang, juga sebuah kapal yang besar yang harus diarahkan dengan kemudi yang kecil. Maka hari ini kita akan kembali merenungkan kekuatan lidah/perkataan yang digambarkan dengan api dan binatang buas. Mengapa Yakobus menggambarkan demikian ? Pertama : gambaran api. Sebuah kebakaran hutan yang besar dan dahsyat diawali oleh nyala api dari putung rokok kecil yang dibuang orang dengan sembarangan, yang kemudian akan menimbulkan nyala api, menjalar dan menjadi kobaran api yang besar yang sulit dipadamkan. Kedua : gambaran binatang buas yang beracun, misalnya ular. Ketika ular menggigit , racun yang dikeluarkan cuma sedikit, namun racun tersebut akan segera menyebar melalui pembuluh darah yang berakibat fatal/mematikan orang yang kena gigit. Bukankah itu sangat mengerikan ?

Lidah/perkataan  digambarkan dengan api dan binatang buas yang beracun.  Apa maksudnya ? Amsal 26 : 20-22. “Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran”, seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan, seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah, masuk ke lubuk hati. Amsal memberi gambaran bahwa lidah/perkataan seorang pemfitnah itu seperti api yang membakar, sedangkan yang mendengarkan fitnah itu seperti orang yang makan sedap-sedapan (lalapan), karena enak rasanya maka orang akan tambah terus. Pemfitnah selalu berbicara yang tidak benar kemudian lama-kelamaan fitnah itu akan menyebar kemana-mana, timbul pertengkaran, menghakimi dan menyakitkan.  Jika hal itu terjadi ditengah-tengah jemaat maka terancamlah keutuhan persekutuan kita. Mungkin hal itu berawal dari kata-kata kita yang agak nylekit, menyakitkan dan menghakimi yang kemudian terus menyebar menjadi fitnahan dan berkembang menjadi pertengkaran. Firman Tuhan mengatakan bahwa kata-kata itu keluar dari dalam hati, oleh sebab itu jikalau hatinya kotor dan busuk maka perkataan kita juga kotor dan penuh penghakiman.  Oleh sebab itu kita harus mengoreksi diri kita supaya kita jangan menjadi penyebar fitnah.

Saat kita pergi ke dokter, dengan keluhan pencernaan maka kita diminta membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Dari lidah dokter tahu bagaimana keadaan kesehatan kita. Jikalau perkataan kita merusak, menghakimi, kotor, meskipun kita ke gereja setiap hari dan membaca Alkitab, maka itu pertanda bahwa kerohanian kita sedang sakit. Sebaliknya jika kata-kata kita membangun, positif dan baik itu berarti menunjukkan bahwa rohani kita dalam kondisi sehat. Bagaimanakah dengan Saudara ? apakah perkataan Saudara menunjukkan bahwa Saudara sedang sakit rohani ? Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan! Datang saja kepada Tuhan Yesus untuk merubah hati dan perkataan Saudara agar menjadi berkat. Atau perkataan Saudara menunjukkan bahwa rohani Saudara sedang sehat, pakailah untuk kemuliaan nama Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin.

 

Pepatah mengatakan, ‘Fitnah lebih kejam dari pembunuhan’, oleh sebab itu jangan memfitnah”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*