suplemenGKI.com

Mazmur 40:1-11

BERANI PERCAYA

Bagian dari Mazmur 40 berisi dosa syukur atas pertolongan TUHAN yang sudah diterima di masa yang lampau.  Pemazmur menyatakan tidak sekadar menaikkan kata-kata syukur dan pujian, atau dengan mepersembahkan kurban bakaran, melainkan dengan menundukkan diri dalam ketaatan kepada firman sebagai wujud keberanian pemazmur untuk percaya.

  • Bagaimana pribadi pemazmur digambarkan diawal perikop ini? (ay.2)
  • Apa yang menjadi isi doa syukur pemazmur? (ay. 2b-4, 6)
  • Apa yang pemazmur pahami tentang TUHAN melalui doa syukurnya? (ay. 2b-4, 6)
  • Apa yang pemazmur pahami tentang orang yang berani mempercayai TUHAN? (ay. 5)
  • Apa wujud nyata dari ungkapan syukur pemazmur? (ay. 6b, 9-11)

Renungan

Menanti tidaklah mudah dilakukan, meskipun yang dinanti pasti datangnya.   Apalagi yang tidak pasti sifatnya.  Bagi sebagian orang, menanti adalah pekerjaan yang sulit dan membosankan karena menuntut kesabaran dan disiplin diri yang besar.  Tapi bila yang dinanti tidak datang juga, bahkan untuk jangka waktu yang lama.  Siapapun mungkin akan bertanya ulang, “apa gunanya menanti?”  Yang lain mungkin berpendapat bahwa makna penantian justru ditemukan di dalam ketidakpastian.

Bagi orang beriman menanti berhubungan erat dengan kedewasaan mental spiritual. Sehubungan dengan “menanti”, umat TUHAN dikenal sebagai orang-orang yang menanti-nantikanNya. Orang beriman yang belajar menanti, tidak akan diperbudak oleh hal-hal yang mendesak sebab tahu apa yang hakiki dan penting.  Iman, harap, dan kasihlah yang membuat kita mampu menempatkan semua hal dalam hidup ini dalam nilai dan perspektif ilahi.

Dalam Mazmur ini, pemazmur melukiskan pengalaman hidupnya ketika ia jatuh ke dalam jerat dosa, dan menanti-nantikan TUHAN.  Bagi pemazmur dosa seumpama lumpur hidup yang menghisap orang yang jatuh ke dalamnya untuk mati terbenam hidup-hidup.  Semakin keras orang itu meronta dan berusaha melepaskan diri, semakin ia akan tersedot oleh lumpur itu. Hanya jika ada pertolongan dari luar sajalah, orang itu dapat diselamatkan.  Inilah penantian yang sekaligus menunjukkan bahwa usaha manusia jelas tak mampu menyelesaikan masalah dosa.  Allah tidak hanya mendengar teriakan pemazmur minta tolong.  Ia bahkan menjenguk dan mengangkat si pemazmur dari lubang kebinasaan (ay.3).

Persoalannya, kecenderungan dosa manusia membuatnya  tidak sabar  ‘menanti’ pertolongan TUHAN, atau mungkin memang tidak berani mempercayai TUHAN.  Manusia lebih percaya dan sibuk mengatasi dosa dengan usahanya sendiri, atau bersikap seolah tidak pernah ada persoalan.  Manusia menipu dirinya sendiri (ay. 5b) dan memungkiri karya TUHAN dalam hidupnya.  Wajar bila kemudian manusia tidak bisa menyatakan keadilan, kasih dan kebenaran  dalam hidupnya (bdk. dg. Ay. 10, 11).

Berbeda dengan sikap pemazmur yang  sejak awal  bersedia “menanti-nantikan TUHAN” (ay. 2).   Pemazmur menyadari kuasa dan kekuatan TUHAN-lah yang sanggup mengangkatnya  dari “lobang kebinasaan, lumpur rawa” dosa (ay. 3).   Itu sebabnya keadilan, kasih dan kebenaran menjadi bagian hidup pemazmur ditengah umat (ay. 11);  dan dengan bangga pemazmur berani berkata, “berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN” (ay. 5).

Berani percaya berarti  mengakui kebesaran dan kedaulatan TUHAN dalam hidup.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«