suplemenGKI.com

Damai Walaupun dalam Badai

Filipi 4:6-7

 

Pengantar
Sepeninggal suaminya, seorang ibu harus membesarkan anak-anaknya sendiri. Hari-harinya dipenuhi dengan kekuatiran dan ketidakdamaian. Dia berpikir “makan apa besok, bagaimana bayar sekolah anak bulan depan, beli seragam anak-anak, beli buku? Bagaimana pula kalau ada yang sakit juga bayar kontrakan rumah dan pelbagai kekuatiran yang lain?” Apakah Saudara pernah mengalami pergumulan seperti itu? Mari kita berefleksi dari pesan Firman Tuhan hari ini.

Pemahaman

  • Ayat 6: Mengapa kita tidak boleh kuatir dan cemas? Apa yang harus dilakukan oleh seorang Kristen ketika sedang kuatir?
  • Ayat 7: Apa yang harus kita  lakukan agar merasakan damai sejahtera dari Allah

Paulus sadar betul bahwa kecemasan atau kekuatiran adalah masalah bagi sebagian besar orang Kristen juga jemaat di Filipi. Mereka cemas dan gelisah saat mendengar kabar Paulus di penjara. Mereka kuatir pewartaan Injil menjadi terhambat karena Paulus dipenjara. Maka dalam ayat 6 Paulus menasihati jemaat untuk tidak hidup di dalam kekuatiran. Mengapa kita tidak boleh hidup dalam kekuatiran dan kecemasan? Karena saat seseorang khawatir atau cemas, maka sebenarnya ia sedang tidak mensyukuri kehidupannya dan segala yang telah Tuhan berikan dalam hidupnya. Padahal sebagai orang beriman mestinya kita terus mempercayai Tuhan yang memelihara hidup kita. Oleh karena itu jemaat diajak menyatakan keinginan lewat doa, permohonan dan ucapan syukur. Doa yang hendak dikatakan dalam ayat ini tentu bukan berdoa di saat cemas dan gelisah saja namun doa yang memang dilakukan dan dipelihara setiap hari.  Kehidupan doa setiap hari menjadi tanda relasi yang baik dengan Allah. Orang percaya tidak akan dikuasai kekuatiran bila memiliki relasi yang baik dengan Allah. Itulah yang membuat kita dapat merasakan damai sejahtera (ay.7) Saat kita mampu menyatakan segala kekuatiran dan permohonan dalam doa dan ungkapan syukur pada-Nya, damai sejahtera yang datang dari Allah akan melingkupi kehidupan kita.

Sesungguhnya Tuhan tidak pernah menjanjikan kehidupan yang enak bersama dengan-Nya, tapi Ia berjanji akan setia menemani dan mendekap kita sampai Ia datang kembali untuk menghakimi dunia ini. Seperti dalam nyanyian PKJ 302 “Jangan kuatir, janganlah takut, di dalam Tuhan tiada yang kurang… Jangan kuatir, janganlah takut, Tuhan Jaminanmu!”

Refleksi
Mari membayangkan, andai Saudara sedang berada di sebuah kapal di tengah lautan. Tiba-tiba angin kencang dan ombak datang. Kapal mulai bergoyang dan Saudara terombang-ambing di dalamnya. Apakah yang Saudara rasakan dalam situasi yang menegangkan itu? Sesungguhnya perjalanan hidup kita juga bisa dihantam badai kehidupan. Kesulitan dan persoalan hidup seringkali membawa kita dalam situasi menegangkan yang membuat kita dikuasai kekuatiran. Bila hidup Saudara dilanda gelombang dan badai kehidupan, bagaimanakah Saudara  bisa mengendalikan kekuatiran?

Tekadku
TUHAN, mampukanlah aku untuk terus berpegang teguh pada-Mu setiap hari sehingga aku mengandalkan-Mu dalam setiap langkah kehidupanku. Ku mohon, damai sejahtera-Mu memberiku ketenangan dalam segala keadaan.

Tindakanku
Mulai hari ini, aku akan membangun relasi yang baik dengan Tuhan melalui doa dan pendalaman  Firman Tuhan. Aku akan menghadapi semua kesulitan hidupku dalam iman dan pengharapan yang teguh sehingga damai sejahtera selalu ku alami.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«