suplemenGKI.com

BAIK TAPI BOHONG

Kisah Para Rasul 5:1-11

 

PENGANTAR
Kita pasti setuju bahwa kebohongan merusak kehidupan sebagai pribadi maupun dalam relasi dengan sesama.  Pernahkah kita memiliki pengalaman dibohongi?  Tentu hal itu menjadi pengalaman yang buruk dalam kehidupan.Hal negatif seperti kebohongan akan merusak relasi dengan sesama, maka wajar bila ada sangsi yang mengikutinya baik secara hukum maupun dalam masyarakat.  Bacaan hari ini juga menceritakan hal negatif yang dilakukan pasangan.  Mari kita baca dan renungkan agar kita tidak mengulanginya!

PEMAHAMAN

  • Apa yang Ananias dan Safira lakukan sebelum kemudian bertemu Petrus? (ayat 1-2)
  • Apa yang menjadi inti keberatan Petrus atas sikap Ananias dan Safira? (ayat 3-5 & 9)
  • Bagaimana sikap hati saudara atas kejadian ini? Berikan alasan….

Ananias dan Safira menjadi bagian kehidupan jemaat mula-mula.  Ciri kehidupan jemaat mula-mula ditandai dengan sikap saling membantu dan rela berkurban bagi sesama.  Apabila ada yang kekurangan, maka akan ada jemaat yang berinisiatif menjual tanah kepunyaan dan menyerahkan hasilnya kepada para rasul, untuk diteruskan kepada mereka yang membutuhkan. Jadi diserahkan sepenuhnya atau seperberapanya, terserah kepada pemilik tanah.  Sebab mereka adalah pihak yang paling berhak menentukan besarannya.(ayat 4). Di sinilah persoalannya, Ananias dan Safira bersepakat berbohong.  Seolah menyerahkan semuanya bagi Tuhan dan sesama, padahal faktanya tidak demikian.  Mereka berdusta dengan cara menahan separuhnya.  Akibatnya Allah menghukum mereka dengan berat, kematian.  Apa yang bisa kita pelajari, khususnya dalam kaitannya dengan komunitas atau keluarga?

Pertama, komunikasi adalah cara terbaik mempertahankan komunitas.  Apa arti komunitas bila tidak saling bertegur sapa;  termasuk di dalamnya adalah  kehidupan berkeluarga.  Ananias dan Safira sudah membuktikan bahwa proses pengambilan keputusan tersebut melalui komunikasi sebagai pasangan (ayat 2).  Namun kedua, komunikasi yang dilakukan harusnya saling membangun. Menyampaikan hal-hal yang baik untuk dilakukan bersama;  atau bersepakat menolak hal-hal sebaliknya.  Komunikasi yang membangun bertujuan menghargai dan menjaga pasangan.  Ketiga,  tidak ada tempat bagi sifat-sifat yang bertentangan dengan semangat kebersamaan. Sikap yang egois, mau menang sendiri, mendominasi, tidak mau mendengar, kurang memberi kesempatan, dan lain-lain dapat merusak komunitas/keluarga.  Apapun keputusannya, setiap pasangan harus bersepakat untuk mempunyai hati yang tidak “mendustai Allah” dengan cara menghargai pasangan. Dalam hubungannya dengan orang lain, bila memang ingin membantu, wujudkanlah sikap saling menolong dan menopang dengan ketulusan tanpa meminta pengakuan atau mencari ketenaran.  Bukan kebaikan yang semu.

Komunitas bukan hanya tentang aku, tapi juga mereka.  Keluarga bukan hanya tentang kamu, aku dan dia, tetapi kita.  Wajar pada persoalan yang perlu diketahui bersama, maka semua pihak diajak bicara.  Sebaliknya pada skala persoalan kecil, pembicaraan pasti melibatkan orang-orang tertentu saja.  Prinspnya, membangun komunitas atau keluarga yang baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik pula.  Sebab hal-hal yang baik pasti juga mendatangkan kebaikan.  Bukan sebaliknya, Tampak baik dan ramah kepada semua orang, tapi ternyata sebuah kebohongan. 

REFLEKSI
Mari merenungkan: membangun komunitas atau keluarga harus dilakukan dengan kebaikan yang benar.  Bukan kebaikan yang tampaknya saja benar, tapi bohong.  

TEKADKU
Tuhan terimakasih sudah mengingatkanku melalui Firman-Mu. Ajar aku mengembangkan kebaikan yang membangun komunitas atau keluarga dengan semangat saling menghargai, bersikap jujur dan saling mengasihi.  

TINDAKANKU
TUHAN hari ini aku mau membangun kejujuran dan ketulusan dalam komunitas atau keluarga dengan menjaga perkataan dan perilakuku agar kebaikan Tuhan dialami sesamaku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«