suplemenGKI.com

1 Timotius 1:12-14

 

Mengenal Allah sebagai Pribadi yang Penuh Kasih Karunia

 

Pengantar
Sering kita membuat pengertian kebaikan dan kasih menjadi sangat subyektif dan cenderung egois. Sebab kita mendefinisikannya dengan ukuran apakah saya menjadi penerima sesuatu yang sesuai dengan apa yang saya inginkan. Hari ini kita akan merenungkan hal tersebut dengan lebih mendalam lagi. 

Pemahaman
-          Apakah Allah itu baik bagi Saudara? Kalau tidak, mengapa Saudara berpendapat demikian? Kalau ya, apakah yang telah Allah lakukan dalam hidup Saudara, sehingga Saudara mengatakan bahwa Allah itu baik?

-          Kepada Allah yang seperti apakah rasul Paulus mengungkapkan ucapan syukurnya? Apa saja yang sudah dikerjakan oleh Allah bagi dia?

Bila kita memperhatikan perjalanan hidup rasul Paulus, maka kita akan melihat bahwa pernyataan “Aku bersyukur kepada Dia” dalam ayat 12 merupakan suatu hal yang luar biasa. Sebab Allah yang menjadi muara ungkapan syukur rasul Paulus bukanlah Allah yang mengijinkan perjalanan hidup rasul Paulus “baik-baik” saja. Berbagai macam persoalan hidup Tuhan ijinkan terjadi dalam diri Paulus. Tuhan mengijinkan Paulus keluar masuk penjara, tiga kali didera di luar batas, lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, satu kali dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut, sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun ketika melakukan perjalanan pelayanan, pendek kata, harus menghadapi berbagai macam bahaya, baik di kota, di padang gurun, di tengah laut, bahkan pengkhianatan (2Kor. 11:23-25). Bukan hanya itu, sekalipun rasul Paulus adalah seorang giat dalam melayani Tuhan, namun pada waktu ia berdoa memohon agar Tuhan mencabut duri dalam dagingnyapun, yaitu seorang utusan Iblis yang menggocoh dirinya, Tuhan tidak mengabulkan permohonan tersebut (2Kor. 12:8-9).

Kalau kita anggap peristiwa-peristiwa itu terjadi satu tahun satu kali, maka berarti dalam rentang waktu sekitar 15 tahun rasul Paulus tidak pernah mengalami tahun tanpa penderitaan. Bagaimana kesan kita terhadap orang yang sedemikian? Berbagai komentar mungkin bermunculan terhadap orang yang seperti ini. Salah satu model komentar yang muncul dalam imajinasi saya ialah adanya orang yang berkata, “Keledai saja tidak akan jatuh pada lobang yang sama, tetapi engkau Paulus, engkau didera sebanyak tiga kali. Tidakkah engkau belajar sesuatu? Tidakkah engkau mau mengevaluasi metoda pelayananmu? Hanya orang bodoh yang harus dicambuk sebanyak lima kali. Lima kali, Paulus, lima kali.”

Menilik pengalaman hidup yang sedemikian itu, bukankah kita melihat adanya begitu banyak alasan untuk rasul Paulus berkeluh kesah, mengomel, bahkan marah kepada Allah? akan tetapi sebaliknya, yang keluar dari dirinya adalah ucapan syukur. Rahasianya adalah rasul Paulus melihat Allah sebagai sumber persoalannya, melainkan sumber kekuatannya. “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku”. 

Refleksi
Kadang kita menuduh Tuhan sebagai sumber persoalan hidup kita. “Bukankah Tuhan itu mahakuasa? Bukankah DIA sanggup untuk membuat penderitaan ini tidak terjadi dalam hidupku? Mengapa Ia membiarkan semuanya ini terjadi?” Kita gagal melihat bagaimana karya Allah yang terus bekerja untuk menguatkan dan menopang kita agar tidak jatuh, dikalahkan oleh berbagai pergumulan tersebut. 

Tekadku
Doa: Tuhan, tolonglah saya agar dapat mensyukuri anugerah-Mu yang memberikan kekuatan, sehingga saya masih tetap ada seperti sekarang ini. Amin. 

Tindakanku
Mengawali hari ini dengan menyanyikan lagu: “Allah Mengerti, Allah Peduli”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*