suplemenGKI.com

Kamis, 11 April 2013

10/04/2013

BERSYUKUR, SULIT?

Mazmur 30:2-13

 

Pengantar
Salah satu rangkaian acara di kebaktian sektor atau pemuda adalah memberi kesempatan jemaat untuk bersaksi.  Entah mengapa sesi ini selalu sepi, alias tidak mudah meminta kesediaan jemaat menceritakan bukti kasih Tuhan dalam hidupnya.  Alasannya beragam, mulai dari merasa gak bisa cerita lancar sampai seolah tidak ada yang bisa diceritakan.  Kalaupun akhirnya ada, itupun setelah mereka saling tunjuk atau terpaksa ditunjuk pembawa acara.  Benarkah keengganan bersaksi sebagai ungkapan rasa syukur karena soal kebiasaan atau karena ada alasan lain? Mari kita merenungkannya! 

Pemahaman

  • Hal-hal apa saja yg pemazmur yakini sebagai karya Tuhan dalam hidupnya? (Ayat 2-4)
  • Apa ajakan dan alasan dibalik ungkapan syukur pemazmur? (Ayat 5-6)
  • Hal-hal apa saja yang mengungkapkan keyakinan pemazmur kepada Tuhan? (Ayat 7-13)  

Tepatlah LAI mencantumkan judul “nyanyian syukur” sebab rangkaian ayat Mazmur ini benar-benar  menunjukkan luapan rasa syukur.  Keseriusan syukur pemazmur berangkat dari pengalaman pribadinya yang telah disembuhkan dan diselamatkan dari “dunia orang mati” (ayat 4).  Pemazmur meyakini bahwa Tuhanlah yang telah “mengangkat” dan “menghidupkan” dia “di antara mereka yang turun ke liang kubur” (ayat 4).  Memang pemazmur tidak menjelaskan pengalaman yang seperti apa.  Namun yang penting, apapun pengalamannya, itu cukup bagi pemazmur untuk melantunkan madah  syukur  (ayat 13) serta tarian (ayat 12) kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan hidupnya.  Bukankah ini juga seharusnya menjadi alasan kita untuk bersyukur ketika merayakan Paskah.

Paskah bukan hanya mengingatkan akan keberdosaan manusia, tetapi juga menegaskan keagungan kasih Allah yang rela memberikan putra tunggalNya sehingga yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).   Persis dengan ungkapan pemazmur yang menyatakan, “Engkau mengaangkat aku . . . Engkau menghidupkan aku”.  Status yang telah mati, tetapi dipulihkan dan dihidupkan semata-mata karena kasihNya kepada manusia. Layaklah bila kemudian pemazmur tidak mampu menahan ungkapan syukurnya “untuk selama-lamanya”;  bahkan pemazmur berkomitmen setia kepada Tuhan (ayat 7).  Tidakkah sikap pemazmur menjadi teladan bagi kita untuk tidak sulit bersyukur?

Refleksi
Renungkan kembali uraian di atas, setelah itu nyanyikan pujian “Bapa, Engaku sungguh baik” dengan setengah suara.  Berhenti sebentar setelah bagian ini,  “kunaikkan syukurku buat hari yang Kau bri, tak habis-habisNya, kasih dan rahmatMu.”  Coba temukan adakah kebaikan Tuhan (yang “tak habis-habisnya”)  yang kita rasakan di dalam pengalaman pribadi.  Jika ada, ingat pengalaman itu sembari melanjutkan kalimat berikutnya dari pujian itu.

Tekadku
Tuhan, aku mau belajar bersyukur dan bersaksi, sebab Engkau sungguh baik bagiku.

Tindakanku
Aku mau menguatkan kehidupan iman jemaat (orang lain) dengan cara menjadi pribadi yang mudah menyatakan syukur melalui kesaksian yang aku sampaikan.  Aku mau bersaksi tentang kebaikan Tuhan, ketika ada kesempatan yang diberikan!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«