suplemenGKI.com

Janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru.

Yakobus 3:1-12

Pengantar

Guru adalah tugas dan jabatan yang mulia dan membanggakan. Guru ikut berperan membentuk kepribadian seseorang. Guru seharusnya sosok untuk digugu perkataannya dan ditiru sikapnya. Lagu “pahlawan tanpa tanda jasa” tercipta karena guru dianggap pekerjaan pengabdian tanpa balas jasa yang sepadan.

Namun bagaimana kalau seorang guru berubah 180%, hanya mengajar (dengan baik?) kalau mendapat “balas jasa” sebesar-besarnya, atau mengajar sekedarnya toh tetap dapat gaji, dsb? Atau dia justru menyalah-gunakan kepercayaan anak-didiknya, dan perilaku serta perkataannya merusak jiwa-jiwa yang masih sangat muda? Masihkah dia pantas didengarkan dan ditiru sikapnya?

Pemahaman

Ay. 1      : Mengapa Yakobus berkata, “janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru”? Apakah  Yakobus berpendapat sudah terlalu banyak orang menjadi guru? Ataukah Yakobus malah melarang setiap orang Kristen berprofesi menjadi guru?

Ay. 2-12: Apa hubungan nasihat di ayat pertama dengan nasihat tentang lidah di ayat-ayat berikutnya?

Surat Yakobus ditujukan kepada beberapa kelompok umat Tuhan yang baru lahir. Jemaat-jemaat baru itu terbentuk dan bertumbuh dengan susah payah, di tengah budaya sekitar yang hingar bingar dengan kemewahan dan kesenangan yang merendahkan serta menolak kehadiran pendatang baru dengan “budaya aneh”nya itu. Peran guru jemaat sangat menentukan kehidupan rohani jemaat muda itu, yang bisa rapuh karena berbagai hal yang dialaminya ketika menegakkan jati diri sebagai jemaat Tuhan. Setiap perkataan dari pengajar mereka sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa mereka. Dia harus hati-hati berbicara, tidak cukup hanya berani bicara. Dia harus dapat mengendalikan dirinya dan tentu saja perkataannya. Semua orang pernah berbuat salah, namun jika perkataan yang salah, maka dapat berakibat sangat luas, bukan hanya dapat melukai dan mengacaukan semangat yang masih muda itu, mungkin bahkan memecah belah atau malah menyesatkan arah hidup jemaat itu. Pengajar juga perlu belajar tentang apa yang diajarkannya dan bagaimana mengajarkannya. Dia harus mempertanggungjawabkan perkataannya (pengajarannya) kapanpun dan dimanapun. Karena itu, Yakobus mengatakan sebaiknya tidak banyak anggota jemaat yang ingin menjadi guru, dengan arti mendapat wewenang untuk mengajarkan kebenaran Tuhan bagi jemaat-Nya.

Refleksi

Apakah anda guru bagi umat Tuhan, atau ingin menjadinya? Sudahkah anda merenungkan bagaimana anda telah melakukannya? Lalu bagaimana anda akan melakukannya selanjutnya?

Tekad

Ingin menjadi guru yang layak di hadapan Tuhan dan umat-Nya, karena dalam peranan apa pun setiap umat Tuhan adalah guru bagi umat-Nya yang lain.

Tindakan

Lebih hati-hati lagi “mengajar” umat Tuhan, dan terus belajar agar dapat benar-benar layak sebagai pengajar umat-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«