suplemenGKI.com

Kisah Para Rasul 8:3-17

 

Kemuliaan Tuhan Nyata dalam Penderitaan

 

Pengantar
Penganiayaan membuat hidup terasa pilu. Ketika membaca berita tentang genocide yang dilakukan Nazi, hati terasa pilu. Demikian pula pada waktu membaca berita tentang kejahatan jalanan dengan modus kepruk kepala. Kita sulit melihat kebesaran Tuhan ketika penganiayaan terjadi. Bacaan hari ini akan menghantar kita pada perenungan tersebut.

Pemahaman
Ayat 3 dimulai dengan kata sambung “Tetapi”, apa saja yang digambarkan Penulis kitab Kisah Para Rasul dengan kata sambung itu?

Kalimat terakhir dari ayat 2 memberikan gambaran suasana hati para murid Kristus pada masa itu. Mereka sedang larut dalam kesedihan akibat meninggalnya orang yang mereka hormati. Namun Penulis Kitab Kisah Para Rasul secara cepat mengubah gambaran kesedihan itu dengan bahaya yang sedang mengintip. “Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu”. Seakan tidak ingin memberi kesempatan kepada orang Kristen untuk meratap, Saulus langsung mengejar. Memang demikianlah seharusnya seorang Kristen yang sejati, ia boleh meratap, tapi tidak boleh hanyut dalam ratapan tersebut.

Akibat tindakan Saulus yang agresif ini, maka orang Kristen tidak dapat berlama-lama untuk meratapi Stefanus. Meski hati mereka masih sedih, namun Jemaat Kristen mula-mula ini harus segera berlari, meninggalkan Yerusalem. Penganiayaan itu bagaikan lecut yang membuat para murid terpencar ke arah berbagai penjuru dunia. Tanpa disadari, mereka mulai melakukan amanat agung, menjangkau semua bangsa untuk menjadi murid Kristus (Mat. 28:18-20), menjadi saksi Kristus baik di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).

Dalam bacaan kita dapat melihat adanya tantangan pemberitaan Injil di Samaria. Simon, seorang penyihir yang sudah sejak lama melakukan praktek penyihiran, tentulah sudah memiliki banyak pengikut. Dikatakan bahwa semua orang, besar kecil, mengikuti dia dan berkata: “Orang ini adalah kuasa Allah yang terkenal sebagai Kuasa Besar” (ay. 10). Tentu bukanlah hal yang mudah bagi Simon untuk menerima kehadiran seorang “pesaing” yang merebut “pangsa pasarnya”. Filipus, dengan kuasa Allah, telah melakukan berbagai macam tanda-tanda, mulai dari menyembuhkan orang yang lumpuh dan timpang hingga mengeluarkan roh-roh dari mereka yang kerasukan roh jahat (ay. 7). Namun kalau kemudian dikatakan bahwa Simon sendiri menjadi percaya, hal itu bukanlah karena kehebatan Filipus, melainkan dampak dari pernyataan kuasa Allah melalui Filipus. Reaksi Simon yang takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang dilakukan Filipus (ay. 13), menandakan bahwa ada mujizat-mujizat yang dilakukan Filipus yang tidak dapat dilakukan Simon. Dengan kata lain, Simon tidak memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang dilakukan Filipus, sama seperti para ahli nujum Firaun yang tidak mampu menandingi mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Musa dan Harun.

 

Refleksi
Dari pengalaman Filipus kita dapat melihat bahwa kemuliaan Tuhan bukan hanya nampak melalui berbagai pengalaman yang menyenangkan, melainkan juga pengalaman yang tidak menyenangkan. Allah sanggup mengalirkan berkah melalui musibah.

Tekad
Tidak mudah berkeluh kesah bila sedang menghadapi permasalahan hidup

 

Tindakan
Mengucap syukur atas tiga peristiwa hari ini.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«