suplemenGKI.com

MENABUR & MENUAI

Bacaan hari ini merupakan lanjutan dari  penjelasan tentang gaya hidup dalam pimpinan ROH.

  1. Ayat 7  : Apakah konsekuensi dari hukum tabur-tuai?
  2. Ayat 8  : Apakah arti menabur dalam daging dan menabur dalam ROH?
  3. Ayat 9-10 : Mengapa kita diajak menabur kebaikan?

Renungan

Paulus mengingatkan orang-orang percaya agar menyadari bahwa perbuatan manusia selalu dilakukan di hadapan ALLAH. Kebebasan yang diberikan kepada kita harus kita pertanggungjawabkan. Karenanya jangan sesat dengan berpikir bahwa gampang sekali menipu ALLAH yang maha baik dan pengampun. Ayat ini mau menekankan betapa pentingnya memiliki kesungguhan hati untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan di hadapan ALLAH. Ibaratnya adalah hukum tabur tuai. Apa yang kita tabur itu pula yang akan kita tuai. Seorang yang menabur dalam dagingnya (menuruti keinginan daging) akan menuai kebinasaan. Seseorang yang menuruti keinginan daging menghasilkan kebobrokan yang menjurus pada kehancuran. Sebaliknya orang yang menabur dalam ROH ( menuruti keinginan ROH) akan menuai hidup yang kekal. Orang yang menabur dalam ROH akan mengerahkan tenaga hidupnya kepada nilai-nilai dari ROH ALLAH, di dalam YESUS KRISTUS. Hal-hal yang berasal dari ROH menghasilkan hidup kekal. Jadi perkara hidup dan binasa bukanlah sekedar apa yang akan datang tapi menunjukkan cara hidup yang harus dijalani di masa kini yang hasilnya akan dituai di masa depan, yaitu saat penuaian (hari TUHAN tiba). Sesungguhnya cahaya kemenangan KRISTUS telah menyinari hidup kita.

Hidup menabur dalam ROH bukanlah cita-cita yang muluk-muluk melainkan perilaku sederhana dalam hidup sehari-hari. Di sini Paulus memberikan contoh sederhana: ”Janganlah jemu-jemu berbuat baik”. Artinya jangan lelah berbuat baik, jangan putus asa untuk berbuat baik. Tiap-tiap orang dapat berbuat baik menurut kesanggupannya. Hidup rohani (hidup dalam ROH) mewujud nyata dengan melakukan apa yang berguna bagi sesama. Berbuat apa yang baik dan berguna bagi sesama adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Artinya perbuatan baik ini harus terus kita perjuangkan dan lakukan selama kesempatan masih ada, sebelum masa penuaian tiba. Rasul Paulus menegaskan bahwa lingkungan persekutuan jemaat adalah ladang pertama yang menanti taburan kebaikan orang-orang percaya. Ini tidak berarti bahwa kita hanya berbuat baik kepada saudara-saudara seiman namun juga menabur kebaikan di ladang orang-orang  yang tidak seiman, kepada semua orang. Amanat berbuat baik adalah universal, tidak ada batas-batasnya. Memang jemaat adalah tempat kita berlatih menerapkan kasih, namun tidak boleh menjadikan kita sebagai orang yang egois dan berpikiran sempit.

Sudahkah Saudara menabur kebaikan hari ini?  Ada orang yang  lelah menabur kebaikan sebab tak selamanya kebaikan dibalas dengan kebaikan. Tak jarang taburan kebaikan justru dimanfaatkan oleh orang lain untuk meraih keuntungan dan berbuat jahat kepada kita. Bagaikan air susu yang dibalas dengan air tuba. Pernahkah Saudara mengalaminya? Jangan lelah dan putus asa sebab sesungguhnya setiap taburan kebaikan Saudara semakin mencerahkan kehidupan. Manakala hari ini  kita menabur kebaikan, maka di hari esok kita menikmati kehidupan yang baik pula.

Tidak ada perbuatan baik yang sia-sia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*