suplemenGKI.com

Kamis, 1 April 2021

31/03/2021

Wujud Syukur

Mazmur 116:12-19

Pengantar

Apakah kita pernah mendengar sebuah lagu rohani yang penggalan liriknya adalah sebagai berikut, “Bagaimana ‘ku ‘kan bernyanyi tentang kasih setia-Mu? Dapatkah ‘kurangkai puisi tentang pengorbanan-Mu?” Ini adalah tembang lawas yang cocok untuk menghantar perenungan kita di hari Kamis Putih ini. Sebab pertanyaan pertama dari lagu tersebut selaras dengan pertanyaan yang diajukan Pemazmur dalam bahan perenungan kita hari ini.

Pemahaman

-  Kebaikan Tuhan seperti apa yang sudah kita terima?

-  Berapa kali kita pernah menanyakan, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?”

Ketika Pemazmur merenungkan segala kebajikan yang Allah limpahkan kepadanya, Pemazmur bertanya apa yang dapat ia lakukan untuk merespons segala kebajikan tersebut (ay. 12). Pemazmur tidak berhenti pada pertanyaan tersebut, melainkan melanjutkan dengan menuliskan beberapa hal yang akan dia lakukan.

Pertama, mengangkat piala keselamatan (ay. 13a). Mungkin pada waktu membaca ayat ini, kita teringat akan juara dunia, misalnya juara dunia sepak bola, yang mengangkat piala kemenangannya sambil berseru-seru kegirangan. Namun bila kita menghubungkan ayat ini dengan ayat 17, “Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN,” nampaknya pengertian mengangkat piala di sini terkait dengan ritual persembahan, dimana Pemazmur mempersembahkan korban syukurnya kepada Allah.

Kedua, menyerukan nama Tuhan (ay. 13b; 17b). Selain mempersembahkan korban syukur, Pemazmur juga menyerukan nama Tuhan. Merupakan suatu pemandangan yang lazim terjadi bila seseorang memperoleh suatu hal yang menggembirakan hatinya, maka orang tersebut akan berseru-seru kegirangan sebagai luapan sukacita yang meliputi hatinya. Namun di sini kita perlu memperhatikan bahwa fokus seruan Pemazmur bukanlah luapan kegirangannya semata, melainkan berfokus pada Allah sebagai pribadi yang telah menganugerahkan kebajikan tersebut.

Ketiga, Pemazmur memenuhi janji yang pernah diucapkannya. Janji Pemazmur kepada Tuhan itu tidak diucapkan secara tersembunyi, melainkan diucapkan di hadapan umat Allah. Apa yang dilakukan Pemazmur di sini juga dilakukan oleh raja Hizkia sesudah disembuhkan oleh Tuhan. Dalam kondisi sakitnya, raja Hizkia dikunjungi nabi Yesaya yang mengabarkan bahwa Allah akan menyembuhkannya. Dan dalam pertemuan tersebut raja Hizkia menanyakan, “Apakah yang akan menjadi tanda, bahwa aku akan pergi ke rumah TUHAN?” (2Raj. 20:8; Yes. 38:22). Melalui pertanyaan tersebut kita dapat melihat bahwa Hizkia berikhtiar untuk pergi ke rumah Tuhan segera sesudah kesembuhannya.

Refleksi

Tidak jarang kita tergelincir ke dalam sikap egois. Kita berseru dengan tekun menanti pertolongan Tuhan, namun tatkala Tuhan benar-benar menjawab seruan tersebut, kita hanya berseru kegirangan tanpa pernah bertanya, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?”

Tekad

Doa: Bapa surgawi tolong saya untuk terus mengingat bahwa segala kebaikan yang telah saya alami itu semuanya merupakan wujud kebajikan-Mu. Mampukan saya untuk membalas kebajikan-Mu seperti yang Pemazmur teladankan. Amin.

Tindakan

Saya akan menceritakan kepada seseorang kebajikan yang Allah limpahkan pada saya dalam minggu ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«