suplemenGKI.com

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. (Yohanes 1:6-8)

 

Dalam sebuah khotbahnya pada Kebaktian Minggu Adven ke-3, seorang pendeta menceritakan sebuah kisah menarik tentang seorang pebisnis di Kentucky, Amerika sekian tahun silam.  Ketika pebisnis  itu baru bisa menyelesaikan semua urusan bisnisnya Sabtu malam di luar kota, maka iapun memutuskan untuk bermalam di kota itu. Minggu pagi ia berjalan mencari sebuah gereja untuk mengikuti kebaktian. Di tengah sepinya Minggu pagi itu, ia berjumpa dengan seorang polisi yang sedang bertugas. Iapun bertanya kepada polisi itu, di mana ada sebuah gereja di sekitar situ yang bisa dikunjunginya. Polisi itupun dengan penuh semangat merekomendasikan sebuah gereja. Pebisnis ini dengan penuh keingintahuan bertanya, di antara sekian banyak gereja yang ada di sekitar tempat itu, mengapa petugas polisi ini sangat antusias  merekomendasikan gereja yang satu ini dan bukan yang lain. Polisi itu kemudian berkata: “Aku bukan seorang yang sering berkunjung ke gereja, tetapi yang aku saksikan para pengunjung gereja ini adalah orang-orang yang paling memancarkan suka cita di antara pengunjung kebaktian gereja-gereja lain. Itu tampak dari wajah mereka ketika mereka keluar dari gereja usai kebaktian. Selain itu, jemaat gereja ini punya hati untuk melayani kebutuhan orang di kota ini. Aku pikir gereja seperti itulah yang engkau cari”.

Belajar dari Yohanes Pembaptis paling tidak kita dapat mencatat 3 (tiga) hal utama yang bisa kita teladani dari diri hamba Tuhan yang sederhana ini, yakni :

1.   Ia memahami betul tugas panggilannya, yaitu untuk menyaksikan “terang” itu supaya semua orang bertobat dan menjadi percaya.

2.   Dengan penuh keberanian dan kesungguhan hati ia melakukan tugas panggilannya.

3.   Di tengah popularitas yang tengah diperolehnya, ia tahu diri dan tidak tergoda untuk “mencuri” kemuliaan Tuhan.

Sebagai orang percaya kita perlu menyadari, bahwa kita semua dipanggil untuk mau menyaksikan Terang Kemuliaan Allah melalui sikap hidup kita, melalui pancaran kasih dan suka cita dari wajah, tutur kata, sikap, dan perbuatan kita sehari-hari (I Tesalonika 5:16-24). Kitapun dipanggil untuk berani menyatakan kebenaran dan keadilan di tengah dunia yang serba “bengkok” ini. Kita juga diingatkan agar sebagai saksi atas Terang itu, kita tidak terjebak dalam keberhasilan atas kesaksian dan pelayanan kita sehingga orang kemudian bertepuk tangan bagi kita, memuji-muji diri kita dan bukannya memuliakan Sang Terang sejati.

Selamat memasuki Minggu Adven ke-3 dan dengan tekad bulat serta kerendahan hati kita senantiasa siap untuk menyaksikan Sang Terang Dunia kepada siapa saja yang kita jumpai dalam kehidupan ini.                                                                                                                                                                                                (AT)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*