suplemenGKI.com

Minggu, 12 September 2010; Lukas 15:1-7

Berdasarkan struktur dari Injil Lukas, bahan perenungan kita hari ini merupakan bagian dari rangkaian pengajaran Tuhan Yesus ketika Ia pergi ke Yerusalem. Seluruh rangkaian ini dicatat Lukas mulai pasal 9:51 sampai dengan pasal 19:44

- Menurut Saudara, adakah hubungan antara pengajaran Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang domba yang hilang ini dengan pengajaran sebelumnya, yaitu tentang garam (Luk. 14:34-35)?

- Mengapa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa dikatakan Lukas biasa datang kepada Yesus? Mengapa pula orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menjadi bersungut-sungut akan hal itu?

- Apakah yang ingin disampaikan Tuhan Yesus melalui perumpamaan yang dipaparkan-Nya? Siapa pula yang dimaksud dengan ”mereka” dalam ayat 3?

- Seperti siapakah kita? Si domba yang tersesat, ataukah pemilik domba yang pergi mencari domba yang hilang itu, atau seperti orang yang tidak menghendaki agar domba itu ditemukan kembali?

Renungan:

Membaca ayat pertama dari pasal 15 ini, suasana yang terbayang adalah betapa akrabnya Tuhan Yesus dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Lukas mencatat bahwa mereka biasa datang kepada Yesus. Ini adalah suatu hal yang menarik, karena mereka adalah orang-orang yang selama ini dipinggirkan oleh para pemuka Yahudi pada waktu itu. Tapi kini dengan berani mereka datang kepada Yesus, seorang Guru yang sedang populer itu. Sebagai orang yang ”tidak dianggap” tentunya mereka tidak berani mendekat apabila sebelumnya Yesus menunjukkan sikap jaga jarak dengan mereka. Namun di sini dikatakan bahwa mereka biasa datang. Mereka mengambil inisiatif untuk mendekat. Keberanian ini tentulah dilandasi oleh kesediaan Yesus untuk membuka diri bagi mereka.

Sikap Yesus ini sangat berbeda dengan sikap para Farisi dan ahli Taurat. Mereka jaga jarak dengan para pendosa itu, bahkan tidak menghendaki kehadiran mereka. Para Farisi dan ahli Taurat itu menjadi marah ketika melihat bagaimana akrabnya Yesus dengan para pendosa tersebut. Sebab di mata mereka, para pendosa itu dianggap tidak layak untuk mendengarkan pengajaran rohani tersebut. Toh percuma, mereka tetap berkubang dalam dosa. Hal itu berbeda dengan sikap para Farisi dan ahli Taurat yang terus menjaga kehidupan mereka untuk tetap suci dengan cara taat kepada tuntutan Taurat.

Menanggapi hal tersebut, Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpamaan orang yang kehilangan seekor dombanya. Orang itu berinisiatif pergi mencari dombanya yang tersesat itu. Ia tidak menunggu dombanya kembali, tapi dialah yang pergi mencari dombanya. Pencariannya tidak tanggung-tanggung, ia mencari sampai menemukannya. Demikianlah dengan kasih Allah terhadap manusia. Allah tidak menanti orang berdosa yang tersesat bagaikan domba yang hilang itu kembali. Allah pergi mencari. Allah berinisiatif secara aktif, bukan pasif menunggu.

Bukankah seharusnya begitu pula sikap orang yang mengerti tentang hati Allah? Ia akan berinisiatif untuk pergi mencari orang berdosa bersama dengan Allah, bukannya menjaga jarak dengan mereka, apalagi menolak mereka.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*