suplemenGKI.com

Roma 14:1-12

 

Perbedaan bukanlah Bahan Perpecahan 

Menerima seseorang yang berbeda dengan kita bukanlah suatu hal yang mudah. Inilah yang nampaknya menjadi masalah di dalam kehidupan bergereja Jemaat di kota Roma. Kalau dibiarkan, hal ini dapat menjadi pemicu perpecahan gereja yang tidak dikehendaki oleh siapapun. Bagaimana seharusnya kita menyikapi masalah ini? Itulah yang akan kita renungkan bersama hari ini. 

-  Adakah kebiasaan Saudara yang ingin Saudara ubah tapi ternyata sulit Saudara tinggalkan, sehingga sampai kini kebiasaan itu masih tetap Saudara lakukan?  Mengapa mengubah kebiasaan itu sulit? Bagaimana pengalaman tersebut menolong Saudara memahami pergumulan orang lain untuk berubah?

-  Siapakah yang dimaksud dengan “orang yang lemah” dalam bacaan kita hari ini? Dan siapa pula yang termasuk “orang yang kuat”? Mengapa mereka disebut demikian? 

Renungan

Pada dasarnya, sebagaimana kebanyakan Gereja pada masa itu, Jemaat Roma terdiri dari orang-orang dari golongan Yahudi dengan kebudayaan Yudais mereka dan golongan Yunani dengan kebudayaan Helenis mereka. Secara umum, mereka yang dari golongan Yunani sebelum menjadi pengikut Kristus adalah simpatisan agama Yahudi. Mereka belajar hidup dengan pola hidup Taurat menurut pemahaman Yudaisme pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat memberatkan mereka, karena itu berarti bahwa ada batasan-batasan yang harus mereka kenakan pada diri mereka sendiri, seperti kekang yang dikenakan pada kuda. Ketika mereka percaya kepada Kristus, mereka mengenal kemerdekaan dari hukum Taurat yang disampaikan Sang Juruselamat. Dengan latar belakang kebebasan dalam kebudayaan Yunani itu maka kemerdekaan dalam Kristus ini membuat mereka merasa lebih nyaman dan cenderung untuk menerima serta menjadikan alasan untuk kembali pada kebebasan yang dulu mereka miliki. Tidak demikian halnya dengan orang-orang Yahudi. Mereka sudah bertahun-tahun hidup dalam pola hidup Taurat yang penuh dengan aturan. Pola hidup yang demikian itu tentu saja sulit untuk diubah, sebagaimana orang-orang Yunani sulit untuk mengubah pola hidup mereka juga.

Ada dua kasus yang diungkap oleh rasul Paulus, yaitu mengenai makanan dan pemeliharaan hari-hari tertentu. Bagi orang Yahudi, ada makanan yang boleh dimakan dan ada pula yang tidak boleh dimakan. Dengan ajaran turun temurun yang seperti ini, tentu bukanlah suatu hal yang mudah untuk dapat makan dengan leluasa. Berbeda dengan orang Yunani yang pada dasarnya tidak mengenal batasan “halal – haram” itu. Demikian pula halnya dengan memegang hari. Yang dimaksud dengan memelihara hari di sini bukanlah seperti kebiasaan orang yang menghitung hari baik, tapi “hari-hari” keagamaan, misalnya kalau puasa biasanya dilakukan orang Yahudi pada hari Senin dan Kamis.

Perbedaan pola hidup ini seharusnya tidak membuat mereka saling mengejek, menghakimi dan akhirnya menolak. Dasar pemikiran Paulus jelas: karena Allah telah menerima orang itu (ay. 3), dan semuanya melakukan bagi Allah (ay. 6). Kiranya hal ini juga menjadi dasar pemikiran kita dalam menyikapi perbedaan yang ada di gereja masa kini. 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*