suplemenGKI.com

Bacaan : 2 Korintus 4 : 7 – 15

Harta tak ternilai di dalam bejana tanah liat

PENGANTAR
Pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab  adalah siapakah diri kita yang melayani Tuhan ? Atau siapakah hamba Tuhan itu ?  Kita atau hamba Tuhan adalah bejana tanah liat. Marilah kita memikirkan akan bejana tanah liat itu. Dalam Kejadian 2 : 7 dikatakan, “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup dalam hidungnya…….”. kita diciptakan Tuhan dari debu tanah adanya. Akan tetapi dalam Mazmur 8 : 5-7, menyatakan bahwa manusia bukan hanya dicipta dari debu dan tanah tetapi kita dicipta dengan menyandang kemuliaan Tuhan Allah. Di satu sisi kita melihat manusia itu rapuh namun di sisi lain kita melihat manusia itu hebat karena dicipta menurut gambar dan rupa Tuhan Allah sendiri (Kej  1 : 26-27). Itulah pribadi hamba Tuhan yang akan kita renungkan hari ini.

PEMAHAMAN

  1. Mengapa rasul Paulus menghubungkan kita ( hamba Tuhan ) dengan bejana tanah liat ? ( ayat 7 – 12 )
  2. Apa yang menjadi harta yang tidak ternilai itu ?

Rasul Paulus mengkaitkan kita yang dicipta dari tanah liat sebagai harta yang tak ternilai yang terdapat dalam bejana tanah liat itu sendiri. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai bejana tanah liat yang sederhana, yang kalau kebentur retak, atau kalau jatuh bisa pecah. Tuhan mau kita melihat bahwa dari bejana tanah liat itu ada harta yang sangat bernilai, yang begitu berkilau akan terpancar dari bejana tanah liat itu.

Harta yang tak ternilai dan akan memancar berkilau itu adalah Injil Yesus Kristus yang adalah Injil Allah yang mulia. Injil Allah yang mulia itu harta kita. Dan harta itu tersimpan, disimpan didalam tanah liat yang bisa retak bahkan pecah. Yang lebih indah lagi menurut Paulus adalah bahwa harta yang indah dan bernilai kekal itu memiliki kuasa yang berlimpah dari Allah. Bagi rasul Paulus Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan ( Rom 1: 16-17). Jika harta yang mulia (Injil) itu tersimpan dalam bejana tanah liat yang rapuh/mudah retak, dan kalau bejana itu retak maka kilau cahaya itu keluar dari retakan tersebut. Dan orang bisa melihat kilauan cahaya itu dari retakannya. Itulah passion dari Tuhan Allah yang meretakkan bejana tanah liat agar Injil Kristus yang mulia, yang bernilai kekal itu boleh disaksikan banyak orang. Memahami bahwa Injil Kristus harus memancar/diberitakan maka rasul Paulus wajib untuk memberitakan-Nya. Walaupun untuk itu rasul Paulus harus mengalami banyak tantangan dan kesulitan namun bagi Paulus yang terpenting adalah Injil Kristus terus memancar.

Biarlah cahaya Injil Kristus juga memancar melalui hidup kita. Terkadang bejana itu harus retak atau diretakkan oleh Tuhan, melalui penderitaan, kesulitan, persoalan kehidupan. Janganlah kita kecewa dan putus asa, tetapi terus maju. Karena dengan hal itu Injil Kristus akan memancar dari kehidupn kita. Marilah kita pancarkan Injil Kristus melalui kehidupan kita.

REFLEKSI
Marilah kita merenungkan : tahukah bahwa saudara adalah bejana tanah liat ! sebagai bejana tanah liat, sudahkah saudara memancarkan Injil kemuliaan allah ?

TEKADKU.
Ya Tuhan, tolonglah saya agar dapat memancarkan terang Injil kemuliaan-Mu.

TINDAKANKU
Mulai hari ini saya harus berani memancarkan Injil kemuliaan Allah baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«