suplemenGKI.com

Jumat, 9 Maret 2018

08/03/2018

Mazmur 107:17-22

 

“Tuhan akan Menebus Umat-Nya Dari Maut”

Pengantar:
            Saudara tahukah kita bahwa kita sekarang sedang tinggal di tengah-tengah dunia yang sedang menuju pada budaya kematian. Paus Yohanes Paulus II, pernah menyampaikan tentang apa itu budaya kematian. Budaya kematian menurutnya adalah dapat dirumuskan sebagai apa saja yang berlawanan dengan kehidupan itu sendiri, melanggar keutuhan pribadi manusia, dan apapun yang melukai martabat manusia. Budaya kematian itu dalam konsekuensinya yang paling tegas, mencoreng peradaban manusiawi dan bertentangan dengan kemuliaan sang pencipta. Contoh: Perlakuan tidak adil terhadap kaum minoritas, diskriminasi karena berbeda, intimidasi dan segala perbuatan, pemikiran dan sikap yang menghancurkan, itu semua adalah budaya kematian yang menuju maut. Kepada siapa kita akan berteduh ketika dunia sedang dilanda budaya kematian?

Pemahaman:

1)      Apakah maksud dari ungkapan pemazmur dalam ayat 17-18?

2)      Apa tujuan pemazmur mengungkapkan puji-pujian dalam ayat 19-20?

3)      Apa yang harus dilakukan oleh setiap orang yang telah diluputkan dari maut (v. 21-22)

Jika kita membaca dengan cermat Mazmur 107 ini, maka kita akan menemukan empat ilustrasi yang menjelaskan tentang keadaan manusia yang membutuhkan penebusan atau kelepasan dari Allah. Pertama, Adanya para pengembara yang tersesat (v. 4-9) kedua, Adanya orang-orang yang terbelenggu (v. 10-16) ke tiga, Adanya orang-orang yang sakit (v. 17-22) dan ke empat, Adanya orang-orang yang mengarungi laut (v. 23-32) Semua kondisi itu tidak memiliki pengharapan untuk hidup. Tetapi pemazmur menunjukkan bahwa ada Allah yang akan menebus umat dari semua itu. Dalam kondisi demikian, tidak ada pilihan lain bagi umat, selain berseru kepada Tuhan Allah. Itu sebabnya pemazmur dengan terus-menerus mengajak umat Israel untuk berseru kepada Tuhan. Pemazmur memiliki keyakinan bahwa Tuhan yang sempurna itu pasti akan mendengar dan melepaskan atau menebus umat-Nya yang setia dan dengan rendah hati terus berseru meminta pertolongan kepada-Nya. Ketika umat berseru kepada Tuhan, sesungguhnya itu menunjukkan bahwa umat adalah lemah, tidak berdaya, penuh dosa yang tidak mungkin dapat menolong dirinya sendiri dari maut. Maka satu-sarunya jalan adalah datang kepada Tuhan. Dan Tuhan pasti membuka pintu pertolongan untuk melepaskan dan menebus umat-Nya dari maut.

Refleksi:
Renungkanlah, sadarkah kita bahwa hari-hari ini kita sedang hidup di tengah-tengah budaya kematian, dan kita tidak mampu menghadapi semua itu. Untuk itu kita harus segera membuat keputusan yang tepat dan benar, yaitu mempercayai Tuhan dalam setiap aspek hidup kita.

Tekad:
Tuhan, saya menyadari bahwa beban hidup di dunia ini sangat berat, tetapi saya bertekad untuk terus mengandalkan Engkau dalam menjalani hidup ini.

Tindakkan:
Belajar untuk merendahkan diri senantiasa di bawah naungan sayap kasih dan pertolongan Tuhan untuk menghadapi budaya kematian dunia yang jahat ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«