suplemenGKI.com

Markus 10:17-27

 

“Apa Tujuan Hidupmu!”

Pengantar:
Ada sebuah pernyataan: Jika anda diberi kesempatan untuk menikmati sesuatu di perjalanan anda, hati-hati jangan sampai anda lupa bahwa anda sedang dalam perjalanan menuju tujuan anda yang sesungguhnya. Saya ingat pengalaman beberapa waktu silam ketika dalam perjalanan saya mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang di sana, dan ternyata makanan di sana enak sesuai selera saya. Karena begitu asyik menikmati makanan tersebut saya hampir lupa bahwa tujuan utama saya adalah menghadiri sebuah acara penting yaitu wisuda teman saya.

Pemahaman:

  1. Apa kesan saudara terhadap sosok seorang yang datang pada Yesus itu? (v. 17)
  2. Mengapa ia meninggalkan Yesus setelah mendengar syarat beroleh hidup kekal? (19-22)

Memberikan perhatian pada kehidupan rohani anak sejak usia dini terbukti sangat efektif bagi pertumbuhan dan pengetahuan kerohaniannya. Strategi itulah yang dilakukan oleh bangsa Yahudi sehingga anak-anak mereka bukan saja terdidik dalam hal iman kepada Tuhan tetapi juga dalam hal pengetahuan tentang hukum Taurat (Lih Ul 6). Bacaan Markus 10:17-22, kisah seorang kaya yang mendatangi Yesus untuk bertanya apa yang harus diperbuatnya supaya memperoleh hidup kekal. Dalam dialog dengan Yesus ternyata dia sangat paham bahkan sudah melakukan apa yang diperintahkan dalam hukum taurat (lih. V. 19). Rupanya dia memiliki kehidupan rohani yang di atas rata-rata. Tetapi sayang kehidupan rohani yang demikian itu tidak dibarengi dengan pemahaman yang benar tentang memperoleh hidup kekal, bahkan dia sangat terikat harta duniawi sehingga dia kecewa dan meninggalkan Yesus (v. 22). Sebenarnya Yesus tidak bermaksud bahwa karena hartanya dia tidak bisa memperoleh hidup kekal, melainkan Yesus hendak menolongnya supaya jangan sampai karena terikat pada harta justru membelokkan tujuan hidupnya yang sesungguhnya, yaitu hidup kekal. Seharusnya harta yang dimilikinya dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan kepada sesama tentang tujuan sesungguhnya, yaitu jika ia mampu hidup berbagi dengan sesama itu adalah ekspresi orang yang mengasihi Tuhan, karena telah memiliki hidup berkelimpahan yaitu keselamatan kekal. Jadi dengan ia belajar berbagi sebetulnya dia telah menunjukan kasih Tuhan yang menyelamatkannya pada sesama.

Refleksi:
Saudara-saudara, terkadang kita tidak mengerti bahwa Tuhan bisa menunjukkan tujuan hidup kekal pada kita melalui apa yang kita miliki dengan cara hidup berbagi dengan sesama.

Tekadku:
Tuhan tolong agar kami dapat melihat tujuan hidup ini, dengan hidup bermakna bagi sesama.

Tindakanku:
Mari saudara-saudara, kita belajar memfokuskan hidup pada tujuan utama hidup kita, yaitu hidup kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Janganlah hal-hal duniawi menutup mata hati kita terhadap tujuan utama hidup kita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«