suplemenGKI.com

Jumat, 8 Juni 2018

07/06/2018

Pengharapan Sorgawi

II Korintus 4:16- 5:1

 

Pengantar
Bayangkan betapa sedihnya hati orang-orang yang rumahnya kena gusur. Sekalipun rumah itu hanya sepetak, namun mereka amat kehilangan. Janji pemerintah bahwa mereka akan dipindahkan ke rusun yang lebih baik keadaannya tak cukup menghapus air mata mereka. 

Rumah dan harta milik seringkali memikat hati sehingga begitu susah untuk dilepaskan walaupun ada pengharapan yang lebih baik. Namun tidak demikian yang dihayati oleh Rasul Paulus. Marilah kita merenungkannya!

Pemahaman

  • Ayat 16-18: Mengapa Rasul Paulus tidak tawar hati di tengah kemerosotan fisik dan penderitaan yang dialaminya?
  • Pasal 5:1     : kabar gembira apakah yang diberitakan di ayat ini? 

Secara manusiawi Paulus lemah, tetapi imannya  tetap kuat sebab Allah menyertai dan menguatkan perjuangan iman dan pelayanannya (ayat 16-17). Sekalipun kekuatan fisik Paulus makin menurun, baik karena usia maupun penderitaan yang terus menerus, namun semangatnya mengabarkan Injil tetap menyala-nyala. Mengapa? Karena dia sangat yakin bahwa di balik semua penderitaan ini kelak tersedia kemuliaan dari Tuhan (ayat 17). Bagi orang yang berorientasi pada upah yang kelihatan, seperti uang, materi dan lain-lain, ucapan Paulus ini omong kosong, tetapi bagi orang percaya, harapan itu benar. Semangat dan harapan demikian harus tetap dipegang oleh setiap pengikut Kristus.

Kehendak Tuhan makin nyata. Di dalam penderitaannya Paulus mengalami banyak berkat rohani. Ia belajar mengandalkan kekuatan rohani, bukan jasmaninya. Ia juga makin memusatkan perhatian kepada harapan surgawi, bukan pada gemerlap duniawi (ayat 1). Sementara menanti penggenapan janji itu, ia sudah mengalami kuasa Roh. Dengan demikian ia belajar hidup dan melayani dalam iman bukan dalam penglihatan. Ia tahu, rumah kekalnya adalah surga, bukan dunia yang menuju kebinasaan ini. Maka dia tak takut mengalami penderitaan bahkan saat rumah duniawinya dibongkar Allah.

Refleksi
Dalam keheningan, renungkanlah apakah yang selama ini lebih menjadi fokus hidup Saudara? Pengharapan akan berkat jasmani atau berkat rohani? Apakah yang paling membuat hati Saudara susah: kehilangan  berkat jasmani ataukah kehilangan berkat rohani? 

Tekadku
Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk mengarahkan hidupku pada pengharapan Sorgawi sehingga aku tidak takut kehilangan berkat duniawi.

Tindakanku

  • Aku akan lebih mendekatkan diri pada TUHAN agar tak menggantungkan pengharapan pada berkat duniawi
  • Aku akan belajar menaruh pengharapan bukan pada berkat yang kelihatan tapi pada TUHAN
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»