suplemenGKI.com

MATIUS 9:9-13 (lanjutan)

“KASIH KARUNIA TANPA BATAS”

 PENGANTAR

Meski semua orang itu berdosa, namun tidak semua orang benar-benar menyadari keberdosaannya. Sebagian besar justru sering menganggap diri sendiri paling benar, paling berhak mendapat berkat.

PEMAHAMAN

  1. Ayat 10-11:Apa tujuan Yesus makan bersama banyak pemungut cukai dan orang berdosa? Risiko apakah yang mungkin dihadapiNya?
  2. Ayat 11: Mengapa orang Farisi keberatan dengan sikap Yesus?
  3. Ayat 12-13: Perhatikan jawaban Yesus kepada mereka. Istilah “orang sehat” dan “orang sakit” digunakan Yesus sebagai kiasan. Siapakah yang dimaksud dengan “orang sakit”?
  4. Ayat 13: Menurut Anda, apakah orang Farisi yang menegur para murid termasuk sebagai ”orang sehat” atau ”orang sakit”? Mengapa?

Kesediaan Yesus dan para murid makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa menunjukkan bahwa Yesus bersahabat dengan mereka. Tindakan ini dilakukan untuk menyatakan bahwa mereka sekarang juga anggota masyarakat yang layak untuk diajak bergaul.

Tindakan Yesus ini jelas tidak menyenangkan bagi orang-orang Farisi. Selain mendobrak penggolongan yang sudah dilakukan kelompok Yahudi garis keras (termasuk orang-orang Farisi), tindakan Yesus juga akan mempengaruhi banyak orang untuk mengabaikan larangan-larangan yang mereka buat. Selain itu, tentu saja, orang Farisi yang merasa bahwa dirinyalah yang lebih pantas diajak makan bersama Yesus. Bukan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa itu. Orang Farisi ini merasa ”cemburu” melihat bahwa yang mendapatkan kesempatan makan bersama Yesus – Guru yang sedang populer pada waktu itu – justru para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Bukan dirinya yang lebih suci dan lebih terhormat dibandingkan mereka.
Jawaban Yesus atas keberatan orang Farisi ini mempunyai tujuan ganda. Pertama, Yesus menjelaskan bagaimana cara pandangNya terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Bagi Yesus, mereka adalah orang-orang yang justru perlu ditolong. Kedua, Yesus menegur orang Farisi ini. Meski tekun melakukan kewajiban-kewajiban agamanya (misal, memberi persembahan) namun jika orang Farisi ini tidak berbelas kasihan – juga kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa – maka dia juga belum melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, orang Farisi ini sebenarnya juga termasuk “orang sakit.” Namun, tidak semua orang yang sakit menyadari bahwa dirinya sakit.

 REFLEKSI

Adakah kita sering merasa cemburu atau iri hati melihat orang lain – yang menurut kita lebih berdosa dibanding diri kita – mendapat berkat yang lebih besar dari kita?

TEKADKU

Tuhan, ampunilah aku jika dalam keberdosaanku ternyata aku tidak merendahkan diri melainkan sibuk menghakimi dan cemburu pada apa yang Engkau lakukan pada orang lain. Padahal diriku sendiri juga sudah menerima begitu banyak kasih karunia dariMu. Amin

TINDAKANKU

Melakukan suatu kebaikan kepada seseorang yang selama ini kita anggap “lebih berdosa” daripada kita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«