suplemenGKI.com

Jumat, 7 April 2017

06/04/2017

Kunci Penyempurnaan Sukacita [2]

Filipi 2:5-11

Pengantar

Melanjutkan perenungan kita kemarin, mungkin masih ada pertanyaan tersisa dalam benak kita, “Bagaimana kalau setelah mewujudkan apa yang kita imani pun ternyata masih tetap terjadi pertengkaran, sehingga kita masih tidak hidup dalam damai?” Hari ini, melalui Filipi 2:5-11, kita akan melangkah pada poin perenungan yang lebih lanjut.

Pemahaman

Ayat 5   : Mengapa rasul Paulus memberikan nasihat, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”? Apa arti nasihat ini?

Ayat 6-8: Apa yang telah dilakukan Kristus, yang dijadikan rasul Paulus sebagai landasan nasihatnya kepada Jemaat Filipi?

Pada waktu seseorang berjuang untuk mempertahankan pemikirannya, tujuannya tentulah agar orang lain sepakat dengan pemikirannya tersebut. Upaya tersebut sebenarnya mengandung sebuah seruan yang tidak terucap, yaitu, “Taruhlah pikiranmu pada pikiranku.” Bukankah seruan yang tidak terucap itulah yang menjadi jalan bagi terjadinya pertengkaran? Coba bayangkan ketika seorang suami berseru kepada istrinya, “Taruhlah pikiranmu pada pikiranku”. Kemudian istrinya yang tidak sependapat dengan suaminya itu juga berseru, “Engkau yang seharusnya menaruh pikiranmu pada pikiranku”.

Menghadapi “perebutan kekuasaan” semacam ini, rasul Paulus memberikan nasihat praktis, yaitu agar setiap kita, dalam menjalani kehidupan bersama ini menaruh pikiran dan perasaan kita pada Kristus. Ini adalah solusi terbaik. Kristus yang menjadi standar kebenaran, bukan kehendak si suami atau si istri, bukan pemikiran si suami atau si istri, melainkan pikiran dan kehendak Allah yang menjadi patokan.

Lebih lanjut rasul Paulus menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan pikiran dan kehendak Kristus itu adalah yang nampak dalam tindakan Kristus yang merendahkan diri, tidak mementingkan kepentingan diri sendiri, sehingga rela taat pada kehendak Allah sampai mati di atas kayu salib.

Refleksi

Rasul Paulus mengajak Jemaat Filipi untuk mengarahkan hati mereka kepada Kristus sebagai standar dari perilaku hubungan mereka dengan sesama, bukan pikiran dan perasaan masing-masing yang cenderung memicu terjadinya perselisihan. Sudahkah kita mengarahkan diri kita kepada Kristus dalam berinteraksi dengan sesama?

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk terus belajar mengenal hati-Mu, sehingga dapat menjadikan Engkau sebagai standar dalam berelasi dengan sesama. Amin.

Tindakan

Saya akan terus belajar mengenal isi hati Tuhan bukan sekadar sebatas kognitif saja, tetapi sampai menjadikannya sebagai patokan dalam belajar merendahkan diri untuk melakukan kehendak Bapa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«