suplemenGKI.com

Jumat, 6 Maret 2015

05/03/2015

1 Korintus 1:18-25

 

Salib adalah Wujud Kekuatan Allah

 

Pengantar
Meski bahan perenungan kita hari ini sama seperti kemarin, namun perenungan kita hari ini berbeda dengan yang kemarin. Kalau kemarin kita merenungkan bagaimana orang Yunani memandang salib, maka hari ini kita merenungan bagaimana orang Yahudi memandang salib.

Pemahaman
- ay. 22 : berbeda dengan orang Yunani, apakah yang dicari oleh orang Yahudi?
- ay. 23 : bagaimanakah orang Yahudi memandang salib? Mengapa demikian?

Rasul Paulus memahami perbedaan kebutuhan orang Yahudi dengan orang Yunani. Karena kebutuhannya berbeda, maka yang mereka cari juga berbeda. Itulah  sebabnya dalam ayat yang ke-22, rasul Paulus berkata “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat”. Kebutuhan orang Yahudi akan tanda itu terkait dengan kondisi di mana mereka sedang menantikan Mesias yang dijanjikan oleh Allah. Dengan ketekunan yang tinggi, para ahli Taurat berusaha mengumpulkan data terkait dengan kehadiran Sang Mesias itu. Berbagai nubuat  diinventarisir serta dijadikan bahan perbincangan di kalangan mereka. Salah satu contoh hasil dari semuanya itu adalah kepiawaian mereka di dalam memberikan informasi akurat yang dibutuhkan raja Herodes Agung tatkala dia kedatangan tamu, yakni para Majus. “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi” demikianlah jawab mereka atas pertanyaan “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?”. Bahkan mereka dapat menjelaskan dasar pendapatnya dengan mengutip – atau paling tidak menunjukkan – nubuatannya (Mat. 2:2-6). Data-data tersebut kemudian mereka gunakan sebagai tolok ukur dalam menilai apakah Yesus adalah Mesias. Hasilnya? Mereka menolak Yesus.

Kalau bagi orang Yunani salib adalah suatu kebodohan, maka bagi orang Yahudi salib adalah suatu batu sandungan. Sebab, selain karena hasil investigasi tersebut di atas, orang Yahudi paham betul bahwa ada tertulis, “…seorang yang digantung terkutuk oleh Allah…” (Ula. 21:23; bnd. Gal. 3:13). Lalu, bagaimana mungkin orang yang terkutuk itu adalah Mesias? Itulah sebabnya salib menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi. Akan tetapi sebenarnya hal ini dapat dikatakan sebagai salah kaprah. Sebab sejak semula mereka telah salah menilai Yesus. Sebagai contoh, mereka menganggap Yesus adalah orang Nazaret anak tukang kayu, dan tidak menyadari bahwa Dia adalah orang Betlehem – karena lahir di Betlehem – serta keturunan Daud. Di mata orang Yahudi, Yesus bukan keturunan Daud, tidak mampu menegakkan Taurat serta akhirnya dapat dibunuh mereka, semuanya itu menunjukkan bahwa Yesus sosok yang lemah. Namun di sini rasul Paulus menegaskan bahwa salib adalah kekuatan Allah, yang memutar-balikkan konsep orang Yahudi.

Refleksi
Mencari tanda agar percaya bahwa Tuhan sedang bekerja, kadang membuat orang terjebak pada sikap membatasi cara Tuhan bekerja. Akibatnya tidak menyadari bahwa kuasa Allah mampu membuat-Nya bekerja di luar pakem yang kita miliki. Dibutuhkan sikap hati yang terbuka agar dapat melihat karya Allah yang luar biasa.

Tekad
Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk belajar membuka diri agar tidak membatasi cara Tuhan bekerja. Amin.

Tindakan
Sebagai langkah pertama untuk belajar membuka diri, saya mau menyanyikan “Allah Kuasa” sebanyak lima kali, untuk mengatakan pada diri saya sendiri bahwa Allah maha kuasa.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«