suplemenGKI.com

Ibrani 2:5-12

 

Antara Kehinaan dan Kemuliaan

 

Surat Ibrani sarat dengan pemaparan tentang kemuliaan Kristus. Hari ini kita akan merenungkan bersama tentang kemuliaan tersebut, tapi sekaligus juga kehinaan Kristus. Kiranya dengan memahami keduanya ini kita dapat semakin mengenal Kristus dan meneladaninya.

-  Siapakah yang lebih tinggi, Kristus atau para malaikat? Mengapa demikian? Mengapa dikatakan Kristus lebih rendah dari Malaikat?

-  Coba jelaskan gambaran Kristus yang Saudara kenal dalam nas bacaan hari ini. Apakah yang Saudara pelajari dari gambaran Kristus tersebut?

 

Renungan

Dalam perikop yang diberi judul oleh Lembaga Alkitab Indonesia, “Yesus seketika lebih rendah dari para malaikat-malaikat” ini, kita melihat bagaimana Penulis surat Ibrani memberikan gambaran tentang kemuliaan Kristus. Akan tetapi sebelum kita membicarakan tentang kemuliaan Kristus tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu tentang pernyataan bahwa Yesus lebih rendah dari pada malaikat-malaikat. Pernyataan ini cukup penting karena dalam perikop ini diulangi sebanyak dua kali, yaitu dalam ayatnya yang ketujuh dan kesembilan.

Pernyataan “untuk waktu yang singkat” dalam ayat 7 membawa kita pada pertanyaan kapankah “waktu yang singkat” itu terjadi? Kebanyakan Penafsir sependapat bahwa pernyataan ini merujuk pada saat di mana Kristus sedang berinkarnasi menjadi manusia. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Filipi mengatakan bahwa Kristus telah mengosongkan diri-Nya, yaitu menanggalkan ke-Allah-an-Nya. Pada waktu berinkarnasi, Kristus tidak lagi menggunakan otoritas-Nya sebagai Allah, melainkan menyerahkan otoritas tersebut kepada Bapa sorgawi. Di dalam tubuh manusiawi-Nya, Kristus tidak lagi dapat bergerak sebagai pribadi yang maha hadir. Bahkan Dia juga tidak dapat bergerak  secepat para malaikat bergerak. Kristus terikat ruang dan waktu, sedangkan para malaikat tidak. Ini hanyalah salah satu contoh kecil yang menggambarkan superioritas malaikat atas Kristus yang sedang berinkarnasi. Namun keadaan ini tidaklah berlangsung lama. Sejarah mencatat bahwa masa hidup Kristus sebagai manusia hanya sekitar 33 tahun.

Sebagaimana yang dikatakan rasul Paulus kemudian, maka Penulis surat Ibrani di sini juga memberikan gambaran bahwa setelah periode waktu perendahan diri yang singkat tersebut, Kristus dimuliakan. Istilah “yang oleh karena penderitaan maut” (ay. 9) dalam surat Ibrani dapat diparalelkan dengan ungkapan “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” dalam surat Filipi 2:8. Dalam terang kedua bagian tersebut kita dapat melihat bahwa kemuliaan yang diterima Kristus diberikan setelah Kristus menghidupi waktu yang singkat itu. Dengan kalimat yang berbeda, baik dalam surat Ibrani maupun surat Filipi, kemuliaan itu digambarkan sebagai penaklukan segala makhluk di bawah kaki Kristus.

Merenungkan semua ini, kita dapat belajar bahwa jalan menuju kemuliaan adalah kerendahan hati. Prinsip yang sama juga dapat diterapkan dalam keluarga. Tanpa kerendahan hati keutuhan keluarga sulit untuk dipertahankan. Kiranya kita bersedia belajar merendahkan diri agar kemuliaan bukan sekadar menjadi harapan belaka.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«