suplemenGKI.com

Jumat, 5 Juni 2015

04/06/2015

Iman Tangguh: Iman yang Penuh Pengharapan

2 Korintus 4:16-5:1

Pengantar

Penderitaan seringkali membuat kita tawar hati. Namun tidak demikian dengan rasul Paulus. Dengan tegas ia berkata, “…kami tidak tawar hati…”. Mengapa bisa demikian? Itulah yang akan menjadi bahan perenungan kita hari ini.

Pemahaman

-  Ay. 16-18     : Menurut Saudara, apakah penderitaan yang dialami rasul Paulus merupakan penderitaan yang berat? Mengapa demikian?

-  Ay.17-5:1     : Bagaimanakah rasul Paulus menggambarkan masa depannya?

Setelah memaparkan berbagai penderitaan yang dialaminya, rasul Paulus menegaskan bahwa ia tidak tawar hati. Hal ini bukan berarti berbagai penderitaan itu tidak memiliki dampak apa-apa atas dirinya. Rasul Paulus mengakui bahwa manusia lahiriahnya semakin merosot. Namun kemerosotan itu tidak membuat dia kehilangan semangat juang. Ada satu hal yang sangat luar biasa dalam pernyataan rasul Paulus selanjutnya, yakni ia tidak menganggap penderitaannya sebagai sesuatu yang berat. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami” (ay. 17).  Sangat jelas bagaimana pengharapan yang dimiliki rasul Paulus menjadi penyemangat dalam menghadapi pergumulan hidup. Ada kemuliaan yang jauh lebih luar biasa, sehingga penderitaan yang ada itu terasa kecil.

Pernyataan bahwa rasul Paulus tidak memperhatikan yang kelihatan merupakan indikator bagaimana ia memiliki cara pandang yang melampaui realita. Ibaratnya, berjalan kaki sepanjang seratus kilometer pastilah suatu hal yang berat. Tapi kalau kita tahu bahwa bila kita berhasil menyelesaikan perjalanan itu kita menerima uang seratus milyar, maka keletihan dalam menempuh perjalanan seratus kilometer itu tidak akan terasa berat. Pikiran kita pasti tidak terfokus pada seratus kilometernya, melainkan pada seratus milyar yang akan kita dapatkan itu. Kemuliaan yang menjadi pengharapan rasul Paulus adalah kemuliaan yang kekal, yang tidak dapat berubah, sehingga patut untuk menjadikan sandaran sehingga hidup ini tidak mudah goyah.

Refleksi

Adalah penting untuk menjaga fokus hidup kita sehingga hidup kita senantiasa berpengharapan. Dengan demikian kita tidak terjebak dengan fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita.

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk mengarahkan fokus hidup saya pada pengharapan yang Engkau sediakan. Amin.

Tindakan:

Saya akan membangun kesadaran untuk fokus pada pengharapan yang Tuhan sediakan dengan menghafalkan Matius 6:33.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*