suplemenGKI.com

Jumat, 5 Juli 2019

04/07/2019

SIKAP TERHADAP YANG LEMAH

Galatia 6:1-10

 

PENGANTAR
Ada pepatah yang mengatakan “Sudah jatuh tertimpa tangga” artinya mendapatkan musibah secara beruntun terus menerus.  Salah satu contohnya adalah ketika ada seseorang yang jatuh atau mengalami kegagalan, terpuruk menghadapi persoalan karena kegagalannya bukannya mendapat pertolongan tetapi malah orang-orang di sekitarnya menyalahkan bahkan sibuk menghakimi dia.  Situasi dan kondisi yang hampir sama seperti itulah yang dikritik oleh rasul Paulus dalam bagian ini.  Mari kita renungkan!  

PEMAHAMAN

  • Bagaimana rasul Paulus menegur perlakuan orang-orang yang merasa lebih kuat dan rohani (ayat 1)
  • Apa yang harusnya dilakukan terhadap orang-orang yang lemah (ayat1-5)
  • Apakah ada orang di sekitar anda yang saat ini sedang jatuh (lemah, gagal).  Apa yang bisa anda lakukan?

Rasul Paulus dengan keras menegur penyimpangan yang terjadi di jemaat Galatia.  Hal itu menghasilkan respons yang beragam.  Ada yang disadarkan akan kesalahannya, berdukacita, dan hendak bertobat.  Ada pula kelompok orang yang tidak jatuh ke dalam kesalahan tersebut, namun memakai surat Paulus ini untuk menilai dan menghakimi kelompok mereka yang sudah tersesat.  Paulus tidak ingin ada orang yang bermegah atas kejatuhan orang lain.  Justru orang yang tidak jatuh karena rohaninya kuat harus mampu menunjukkan sikap kristiani yang penuh kasih terhadap mereka yang jatuh.

Sikap kristiani itu adalah wujud kualitas kekristenan sejati.  Bagaimana nasihat rasul Paulus?

Pertama, tidak menghakimi saudara yang sedang jatuh, sebaliknya mau mengampuni dan mengangkatnya (ayat 1).   Bukankah lebih mudah bagi kita untuk menghakimi sesama daripada mengampuni dan menolong mengangkatnya kembali?  Rasul Paulus mengajak setiap orang percaya untuk meneladani Kristus, sebagai wujud kedewasaan rohani.  Kedua, menyadari diri juga lemah dan bisa jatuh sehingga akan selalu berjaga-jaga agar tidak jatuh (ayat 3).  Setiap orang tidak menilai diri dengan memakai standar manusia melainkan standar Firman Tuhan (ayat 4-5).  “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri;…”.  Dengan kesadaran seperti itu, maka terbangunlah sikap saling tolong menolong di antara sesama anak Tuhan (ayat 2).  Sehingga tidak ada yang mengalami seperti peribahasa di atas ketika dalam keadaan lemah atau jatuh.

Ketiga, rendah hati menerima teguran firman karena kesalahannya dan bersikap hormat kepada yang menegur dengan kasih (ayat 6).  Rasul Paulus juga terus mendorong supaya orang yang jatuh mau menerima nasihat dan teguran, terlebih memiliki kesediaan hati untuk segera bertobat sebab Allah tidak dapat dipermainkan (ayat 7-8).  Akhirnya, Paulus juga menasihati jemaat Galatia agar terus menerus mewujudkan karakter Ilahi yang nyata melalui perbuatan-perbuatan yang baik sehingga hidupnya menjadi berkat (ayat 9-10).
REFLEKSI
Mari merenungkan: gereja seharusnya menjadi wadah untuk mewujudkan kasih persaudaraan.  Ada teguran dengan kasih atas kesalahan, bukan penghakiman.  Ada pertobatan dari kesalahan dan pengampunan untuk orang yang bertobat.  Dan semua itu harus dilandaskan atas kasih Ilahi.

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran Firman-Mu hari ini.  Tolong aku untuk memandang, menilai dan menerima orang lain yang lemah (jatuh, gagal) seperti cara-Mu yang penuh kasih.  Tolong aku untuk tidak sibuk menghakimi agar diriku menjadi teman yang membawa berkat dan kasih-Mu. 

TINDAKANKU
Hari ini aku menjadi teman buat ……. yang telah jatuh (gagal, lemah) agar dia bisa merasakan kasih dan berkat Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»