suplemenGKI.com

Yakobus 2:14-26

SATU PAKET

 

PENGANTAR
“Yang lain menawarkan janji;  kami memberikan bukti”, demikian promo suatu produk di televisi.  Tentunya pesan yang sama bukan hanya berlaku bagi kualitas produk atau jasa yang ditawarkan, tetapi juga bisa diterapkan dalam konteks relasi manusia dengan sesamanya.  Yang dibutuhkan bukan hanya iman tetapi juga bukti iman itu sendiri.  Bagaimana memahami hal ini?  Mari kita membaca dan mempelajarinya.

PEMAHAMAN

  • Ayat  14, 17, 20: Apa yang Alkitab katakan bila iman dan perbuatan saling terpisah?
  • Ayat 23 dan 24: Mengapa Abraham disebut “sahabat Allah” dan apa alasannya?
  • Menurut saudara, iman dan perbuatan terpisah atau satu adanya? Apa alasannya?

Hari ini konsumen cukup cerdas memilih dan memilah kualitas produk barang atau jasa yang digunakannya.  Konsumen menginginkan produk barang atau jasa yang kualitas barangnya seperti yang ditawarkan.  Bukan yang hanya sekadar janji tetapi jauh dari bukti.  Itu sebabnya, promo produk barang atau jasa seperti penulis sampaikan di atas cukup jelas menangkap suara pelanggan.  Kebenaran yang sama juga berlaku seperti yang dinyatakan dalam bacaan hari ini, yaitu antara iman dan perbuatan.  Yakobus mengkritik pandangan yang menyakini bahwa iman bisa dipisahkan dari perbuatan.  Artinya, seseorang seolah bisa mempunyai iman tanpa tuntutan adanya perbuatan.  Demikian pula sebaliknya, seseorang seolah bisa menyakini adanya perbuatan tanpa dibangun dari iman (ay.14, 18).  Bagi Yakobus “apakah gunanya?” bila iman terpisah dari perbuatan;  atau lebih tegas lagi keterpisahan itu dinyatakan sebagai “iman yang kosong” (ay.20) dan “mati” (ay.26).

Kata “kosong” dan “mati” yang digunakan di sini bermakna ketidakmungkinan dan kesia-siaan.   Alasannya, dimensi iman dimulai dari menyakini kebenaran yang diterima dan kemudian tunduk serta taat melakukan kebenaran itu dalam tindakan nyata.  Jadi, iman yang benar bukan hanya diukur dari kebenaran pengakuannya saja, tetapi juga dari keselarasan pengakuan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan.  Dengan demikian keberadaan iman selalu satu paket dengan perbuatan yang lahir sebagai bukti adanya iman.  Yakobus meyakini bahwa “iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (ay.22).   Konsekuensinya, “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (ay.24).  Kebenaran ini tidak bermaksud mengajarkan keselamatan di dalam iman Kristen terjadi karena adanya perbuatan.  Tidak demikian.  Melainkan hendak menegaskan bahwa perbuatan-perbuatan yang tampak menjadi bukti adanya iman.

Jadi, iman dan perbuatan seharusnya menjadi bagian dari hidup kristiani yang telah diubahkan Kristus.  Namun, pertumbuhan keduanya tidak secara otomatis terjadi ketika seseorang percaya kepada Kristus.  Pengalaman lahir baru meletakkan dasar iman yang melahirkan perbuatan.  Perlu kesadaran dan kesengajaan dari diri sendiri untuk terus menumbuhkan iman dan perbuatan dalam kesaksian hidup hari lepas hari.

REFLEKSI                                                                        
Mari selalu ingat bahwa iman dan perbuatan satu adanya sebagai bukti kesaksian hidup kita sebagai orang percaya.

TEKADKU
Tuhan tolong aku untuk selalu menyadari bahwa iman dan perbuatan satu adanya dalam panggilan hidupku sebagai orang percaya.

TINDAKANKU
Hari ini aku mulai menumbuhkan imanku melalui perbuatan-perbuatan di ……. agar hidupku selaras dengan kebenaran iman yang aku yakini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«